oleh

Menjadi Guru Harus Ikhlas

La Ode Rays,S.Pd (58) adalah Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) 019 Bintan Timur  Jalan Tirta Madu KM 18 Kijang Kabupaten Bintan. Rays sudah malang melintang didunia pendidikan dan sudah memiliki segudang pengalaman dalam pengabdian menjadi seorang guru.

Awal beliau mengajar di SDN 08 Lanjut Dabo Singkep Kabupaten Kepulauan Riau (Kepri) tahun 1986 dan ketika itu masih bergabung dengan Provinsi Riau. Setelah Kepri berpisah dari provinsi induk bapak dua orang anak ini pada 2007 beliau diamanahkan menjadi Kepala Sekolah SD 001 Desa Numbing Kecamatan Bintan Pesisir.

Selama 36 Tahun pengalaman sebagai seorang guru tidak pernah merasakan rasa duka. Intinya beliau mensyukuri dan ikhlas dalam mengabdi meskipun  sebenarnya banyak kekurangan, baik itu sarana dan prasana. Bagi dia itu tidak menjadi hambatan seorang guru untuk mencerdaskan anak bangsa.

Dulu pernah dalam kondisi serba keterbatasan di sekolah tidak adanya sumur, maka kamipun berinisiatif untuk gotong royong membuat sumur. Setelah sumur selesai, baru ada bantuan dari UPT sekitar tujuh  juta namun bantuan tersebut dikembalikan karena kami sewaktu itu berpikir kerja harus ikhlas.

Menurut dia, sesuai UU Dosen dan Guru no.14 tahun 2005 tunjangan profesi pengunaannya tidak sepenuhnya untuk keperluan pribadi karena disana juga sebagian untuk kepentingan penunjang profesi guru. “Contoh memudahkan mengajar untuk membeli buku referensi dan laptop atau media lainnya,” ujar Rays.

Yang terpenting, pesan bapak ini, guru jangan menjadikan anak itu pintar tapi jadikan anak itu paham dan mengerti. Karena mendidik tujuan nya adalah merubah pola pikir anak untuk pendidikan dan pengetahuan. “Contoh ada yang tidak tamat SD bahkan putus sekolah tapi sukses secara ekonomi dan pengetahuan. Malah ada anak yang putus sekolah tapi sudah bisa merakit dan memperbaiki komputer atau parabola TV,  tamat SD bahkan ijazah tidak diambil sekarang ia mampu menjadi teknisi besar, seperti memperbaiki traktor dragon,” ujarnya.

Sebelum jadi kepala sekolah, Rays menjalani kerasnya kehidupan. Dia pernah jadi tukang ojek selama tujuh tahun. Awal menjalani profesi guru, dia juga pernah tinggal di rumah sewa yang penuh keterbatasan, listrik tak ada mandi di parit yang harus ditempuh berjalan kaki sejauh 1 KM. Sekarang putra dabo ini punya istri yang juga guru dan kedua anaknya berprofesi guru.(riowanis)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed