oleh

Kelayakan Pulau Penyengat Menjadi Warisan Dunia (4-Habis)

Assoc. Prof. Dr. H. Abdul Malik, M.Pd.

Pengantar: Pulau Penyengat, yang terletak di wilayah Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), tidak saja dikenal sebagai pusat kerajaan melayu tempo doeloe, tapi juga masih mengemuka hingga hari ini. Itu sebab, Unesco (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, ingin menjadikan pulau bersejarah itu sebagai warisan dunia. Berikut tulisan budayawan serumpun melayu, Prof. Dr. Abdul Malik, M.Pd tentang Pulau Penyengat Warisan Dunia. Ini tulisan terakhir dari empat sambungan. Selamat menikmati.

Bahkan, Raja Ali Haji dan Haji Ibrahim ikut mengerjakan kamus dwibahasa: Melayu Belanda dan Belanda-Melayu serta Tata Bahasa Melayu bersama H. von de Wall. Pakar bahasa Belanda itu dikirim ke Tanjungpinang oleh Pemerintah Hindia-Belanda sejak 1857. Sampai wafatnya dan dikebumikan di Tanjungpinang pada 1873, tahun yang sama dengan kemangkatan Raja Ali Haji.

Karena upaya pengembangan dan pembinaan bahasa Melayu yang dikelola secara modern dan baik itu, karya-karya Raja Ali Haji dkk. menjadi begitu istimewa. Pada masa itu telah dilakukan upaya pembakuan bahasa Melayu. Alhasil, bahasa Melayu tinggi Riau-Lingga menjadi yang paling terkemuka di antara dialek Melayu yang ada di nusantara. Atas dasar itulah, bahasa Melayu baku Riau-Lingga (Kepulauan Riau) yang dibina di Pulau Penyengat diangkat menjadi bahasa Indonesia pada 28 Oktober 1928. Bahkan, bahasa nasional negara-negara ASEAN yang lain: Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam juga merujuk kepada standar bahasa Melayu yang dikembangkan oleh Raja Ali Haji.

Para cendekiawan Riau-Lingga juga telah melakukan kajian-kajian perintisan dan pengembangan ilmu-ilmu modern di Pulau Penyengat. Di antara ilmu itu adalah linguistik, sastra, politik, hukum, ilmu pemerintahan, astrologi, kedokteran, sejarah, filsafat, jurnalistik, dan agama (Islam), dan lain-lain. Karya-karya awal itu amat penting artinya untuk melihat kesinambungannya dengan perkembangan masa kini, di samping nilai historisnya.

Faktor yang paling menentukan adalah keperkasaan bahasa Melayu yang dikembangkan di pulau kecil itu. Dalam hal ini, bahasa Melayu Riau-Lingga digunakan sebagai bahasa pendidikan di nusantara, untuk selanjutnya dijadikan sebagai alat perjuangan oleh bangsa Indonesia dalam merebut kembali kemerdekaannya setelah sekian lama dijajah oleh bangsa asing, Barat dan Timur.

Keperkasaan bahasa yang dikembangkan dan dibina di Pulau Penyengat itulah yang paling mengagumkan para perwakilan UNESCO dalam setiap kali pembahasan dengan mereka. Betapa tidak? Bahasa dari pulau kecil itu mampu menjadi bahasa nasional sebuah negara besar seperti Indonesia, bahkan juga beberapa negara Asia Tenggara. Kenyataan itu hanya terjadi dari Pulau Penyengat Indera Sakti.

Lalu, apakah manfaatnya Pulau Penyengat menjadi Warisan Dunia? Secara umum, pulau itu akan meningkat menjadi destinasi wisata internasional. Dengan demikian, kunjungan wisatawan mancanegara nescaya akan meningkat pula jika disejalankan dengan promosi yang efektif. Dengan demikian, tentulah ianya akan meningkatkan devisa dari sektor pariwisata. Tentu, diharapkan juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Pulau Penyengat, khasnya, dan Kepulauan Riau, umumnya.

Abdul Malik mempresentasikan sejarah, potensi, dan keistimewaan Pulau Penyengat Indera Sakti di hadapan perwakilan UNESCO dan Kemdikbud, Bogor, Juni 2019

Yang tak kalah pentingnya adalah ini. Dengan menjadi Warisan Dunia, khazanah benda cagar budaya dan warisan budaya takbenda yang ada di Pulau Penyengat akan semakin terjamin kelestariannya. Pasalnya, kesemuanya itu akan terus dipantau dan diawasi oleh badan dunia UNESCO. Sebarang pihak tak boleh memperlakukannya dengan sewenang-wenang. Alhasil, pemanfaatannya bagi pengembangan kemanusiaan, kebudayaan, dan ilmu-pengetahuan semakin terbuka. Bukan tak mungkin akan ada pula bantuan dunia untuk pengembangan dan pelestariannya.

Yang pasti, dengan cap sebagai Warisan Dunia, Pulau Penyengat akan semakin menarik lebih banyak wisatawan, baik domestik maupun mancaranegara, untuk melancong ke sana. Dengan manajemen pariwisata yang baik, kesemuanya itu akan memberikan banyak manfaat dalam pengembangan kebudayaan, ekonomi, dan diplomasi antarbangsa dan negara sedunia. Bukankah Pulau Penyengat juga telah diresmikan sebagai Pulau Perdamaian Dunia? Semoga! (Habis)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.