oleh

Kelayakan Pulau Penyengat Menjadi Warisan Dunia (1)

Assoc. Prof. Dr. H. Abdul Malik, M.Pd.

Pengantar: Pulau Penyengat, yang terletak di wilayah Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), tidak saja dikenal sebagai pusat kerajaan melayu tempo doeloe, tapi juga masih mengemuka hingga hari ini. Itu sebab, Unesco (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, ingin menjadikan pulau bersejarah itu sebagai warisan dunia. Berikut tulisan budayawan serumpun melayu, Prof. Dr. Abdul Malik, M.Pd tentang Pulau Penyengat Warisan Dunia. Selamat menikmati.

PULAU kecil itu bernama Pulau Penyengat.  Karena peran pentingnya pada masa lalu, pulau di depan Kota Tanjungpinang itu menjadi kawasan di Kepulauan Riau yang paling potensial untuk diangkat menjadi Warisan Dunia.

            Pulau Penyengat awalnya menjadi benteng pertahanan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1528-1824). Kala itu pusat pemerintahan salah satu kesultanan penting di Selat Melaka itu berada di Sungai Carang, Hulu Riau, di Pulau Bintan (1722-1787), juga di wilayah Kota Tanjungpinang sekarang.

            Pulau Penyengat mulai dijadikan tempat tinggal penduduk pada 1806. Sebelum itu, pada 1803 Sultan Mahmud Riayat Syah, Yang Dipertuan Besar Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1761-1812), sultan yang berkuasa kala itu, melamar dan selanjutnya menikah dengan Engku Puteri Raja Hamidah binti Raja Haji Fisabilillah. Raja Haji Fisabilillah, ayahanda Raja Hamidah, adalah Yang Dipertuan Muda IV Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1777-1784), yang gugur melawan Belanda di medan perang di Teluk Ketapang, Melaka pada 18 Juni 1784.

Konon mahar pernikahan antara Sultan Mahmud Riayat Syah dan Engku Puteri Raja Hamidah adalah sebuah pulau. Itulah sebabnya Pulau Penyengat biasa juga dibut Pulau Maskawin. Dengan demikian, Pulau Penyengat menjadi satu-satunya pulau di dunia yang pernah dijadikan maskawin (mahar) pernikahan. Sejak itu, secara adat dan hukum yang berlaku pada masa itu, Pulau Penyengat menjadi milik sah Engku Puteri Raja Hamidah.

Abdul Malik (kiri) bersama Mr. Richard (UNESCO), perjuangan Pulau Penyengat Indera Sakti menjadi Warisan Dunia

            Bersamaan dengan dijadikannya maskawin pernikahan untuk istrinya, Sultan Mahmud Riayat Syah memerintahkan pembangunan Pulau Penyengat. Pembangunan berlangsung lebih kurang tiga tahun dan selesai pada 1806. Infrastruktur yang dibangun meliputi istana, taman-taman, masjid, jalan, dan lain-lain sehingga pulau yang sebelumnya tak berpenghuni itu berubah sama-sekali menjadi sebuah bandar (kota) baru. Setelah dibangun, Pulau Penyengat disebut juga Penyengat Bandar Riau.

            Setelah pembangunan selesai, Engku Puteri Raja Hamidah pun berpindah ke Penyengat Bandar Riau. Sebelum itu, Engku Puteri tinggal bersama saudaranya Raja Jaafar ibni Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda VI Kesultanan Riau-Lingga (1805-1832) di Kota Piring, Pulau Biram Dewa, Hulu Riau (juga di wilayah administratif Kota Tanjungpinang sekarang). Sebaliknya, Sultan Mahmud Riayat Syah sejak 24 Juli 1787 telah berpindah ke Daik, Pulau Lingga, yang sejak itu telah dijadikan tempat kedudukan Baginda sebagai Sultan Riau-Lingga-Johor-Pahang.

            Bersamaan dengan kepindahan Engku Puteri Raja Hamidah, Sultan Mahmud Riayat Syah menganjurkan Yang Dipertuan Muda Raja Jaafar untuk memindahkan juga pusat pemerintahan Yang Dipertuan Muda ke Penyengat Bandar Riau. Sesuai dengan kesepakatan Sultan dan Yang Dipertuan Muda, pada 1806 pusat pemerintahan atau tempat kedudukan resmi Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga juga dipindahkan ke Pulau Penyengat. Sejak itu, pulau tersebut dikenal juga dengan nama Pulau Penyengat Indera Sakti.

            Lebih kurang 95 tahun Pulau Penyengat Indera Sakti telah menjadi pusat pemerintahan Yang Dipertuan Muda. Selanjutnya, pada 1900 Sultan Abdurrahman Muazam Syah II, sultan yang berkuasa kala itu, memindahkan pula pusat pemerintahan dan kedudukan resmi Baginda sebagai Sultan ke Pulau Penyengat Indera Sakti dari kedudukan sebelumnya di Bandar Daik, Pulau Lingga (wilayah administratif Kabupaten Lingga sekarang). Pemindahan itu menyebabkan pusat pemerintahan Yang Dipertuan Besar dan Yang Dipertuan Muda Kesultanan Riau-Lingga dipersatukan tempatnya, yakni di Pulau Penyengat Indera Sakti.(bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.