oleh

Cetak Dai, Dewan Dakwah Kepri Dirikan ADI

Tanjungpinang (infoluarbiasa.com)-Untuk memenuhi kebutuhan dai atau penceramah agama Islam di Provinsi Kepri, utamanya yang ada di pelosok dan pulau-pulau, Dewan Dakwah Kepri akan mendirikan Akademi Dakwah Indonesia (ADI) di Tanjungpinang.

Hal itu dikatakan Sekretaris Dewan Dakwah Kepri, Marsudi, S.Sos, M.Si, kemarin (9/10), di Tanjungpinang.

Menurutnya, terdapat beberapa desa di Kepri yang kekurangan dai sehingga masjid yang ada di desa tersebut tidak bisa melaksanakan ibadah keagamaan, seperti sholat jumat dan beberapa amalan fardu kifayah.

“Ada desa yang tidak melakukan sholat jumat lantaran masjidnya tidak memiliki dai yang paham dengan rukun ibadah sholat jumat,” ujar Marsudi yang sehari-hari berprofesi sebagai dosen ini.

Menurut dia, kondisi ini sangat memprihatinkan. Walau jumlah desa tersebut tidak banyak, tapi sebagai umat muslim, pihaknya trenyuh juga dengan kondisi itu. “Ada sekitar delapan (8) desa di Kepri yang tidak punya dai di masjidnya. Itu data sementara,” kata dia.

Oleh karenannya, Dewan Dakwah Kepri berinisiatif untuk mencarikan solusi mengatasi kekurangan dai atau penceramah agama tersebut. Salah satu solusinya, kata Marsudi, dengan mendirikan perguruan tinggi yang mendidik generasi muda menjadi dai, yakni ADI di Tanjungpinang.

Marsudi

Dikatakan, beberapa waktu lalu, pihaknya sudah mendapat respon positif dari Pemerintah Kabupaten dan Kota untuk mencetak dai atau penceramah agama. “Setidaknya, ada tiga kabupaten/kota yang mendukung program pendidikan dai ini. Yaitu Pemkab Lingga, Anambas, dan Kota Tanjungpinang,” imbuhnya.

ADI akan memberikan kuliah dan pemondokan gratis kepada mahasiswanya. Setelah selesai kuliah, diharapkan lulusan ADI mau mengabdikan diri di desa-desa atau pulau yang tidak punya penceramah agama di masjidnya.

Itu sebab, Dewan Dakwah mengharapkan dukungan dari kabupaten/kota di Kepri. “Diharapkan masing-masing kabupaten/kota dapat memberikan beasiswa penuh kepada calon mahasiswa yang akan kuliah di ADI. Setelah selesai, mereka mengabdi kembali ke daerah asalnya,” ujar Sekretaris Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kepri itu.

Menjawab pertanyaan, Marsudi mengatakan, tahun depan paling lambat tahun 2024 ADI sudah mulai beroperasi. Setiap angkatan, ADI akan menerima sekitar 25 orang mahasiswa baru. “Saat ini kami sedang menjajaki beberapa tempat di Tanjungpinang yang layak sebagai kampus ADI,” kata Sekretaris Forum Komunikasi Muballigh (FKM) Kota Tanjungpinang ini.

Selalin menerima mahasiswa utusan dari kabupaten/kota, sambung dia, ADI juga bakal menerima mahasiswa umum. “Belajarnya tetap gratis dan kuliahnya mondok” ujarnya.

Itu sebab, demi kelancaran studi di ADI, Marsudi memerlukan bantuan dari Laznas, donator, serta sumbangan masyarakat yang tidak mengikat, selain dukungan dari pemerintah kabupaten/kota yang ada di bumi “bunda tanah melayu” itu.

“Membantu biaya pendidikan genarasi muda untuk berprofesi sebagai dai atau penceramah agama, efeknya sangat luar biasa. Karena ianya bakal menghidupkan ibadah-ibadah Islam hingga ke desa-desa. Diharapkan sumbangsih ini menjadi amal jariah bagi kita semua,” tuturnya.(rmb)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.