Pada satu kesempatan saya berkunjung ke Kota Denpasar, Bali. Tidak ada rencana khusus, selain memenuhi titipan adik saya: membelikan mukenah di sebuah toko oleh-oleh yang ia yakini kualitasnya baik.
Ia pernah membeli mukenah dari toko itu bertahun-tahun lalu dan sampai sekarang masih awet. Rekomendasi sederhana itu membuat saya penasaran, sekaligus memberi alasan untuk menengok salah satu ikon belanja di Bali.
Ketika saya menanyakan lokasi toko itu kepada sopir taksi dan beberapa orang yang saya temui, nyaris semuanya langsung tahu. Popularitasnya bukan sekadar cerita.
Dan benar saja, ketika saya dan seorang teman tiba di sana, kawan saya spontan berujar, “Mak besarnya toko oleh-oleh ini, bang. Tingkat tiga lagi.” Nada kagumnya tidak berlebihan. Dari luar, bangunannya memang lebih menyerupai pusat perbelanjaan kecil ketimbang toko cenderamata besar.
Souvenir dan kerajinan khas
Kami pun masuk ke dalam. Lantai pertama dipenuhi berbagai souvenir; lantai di atasnya menampilkan pakaian, kerajinan, dan pernak-pernik khas Bali.
Setelah berkeliling sejenak, saya akhirnya menemukan mukenah pesanan adik saya. Niat untuk menambah beberapa potong pakaian sempat muncul, tetapi langsung surut ketika melihat label harga.
Kaos biasa, dengan tulisan “Denpasar Bali”, dihargai Rp120 ribu. Padahal bukan barang eksklusif, bukan pula produk lokal sepenuhnya.
Memang, yang dijual tidak semua produksi toko itu, ada batik Jawa, garmen dari luar Bali, dan produk dari berbagai daerah lain. Namun rak-rak itu tetap penuh pembeli.
Kenapa digemari
Di antara keramaian itu saya sempat bertanya dalam hati: apa yang membuat tempat ini begitu digemari? Sebab kalau sekadar souvenir atau kaos, banyak daerah lain memiliki produk serupa dengan harga lebih terjangkau.
Tapi toh pembeli—baik turis domestik maupun mancanegara—tetap hilir mudik membawa kantong belanja di toko souvenir itu.
Perlahan saya menyadari, yang dijual toko ini sesungguhnya bukan sekadar barang. Yang mereka tawarkan adalah rasa ingin membawa pulang “sepotong Bali.”
Tulisan Bali sebagai simbol
Tulisan “Bali” pada dada kaos atau gantungan kunci kecil di meja kasir bukan lagi benda, melainkan simbol. Simbol tentang liburan, pengalaman, dan kenangan yang ingin dipertahankan wisatawan setelah kembali ke rumah.
Brand Kota Denpasar—yang terbangun puluhan tahun—menjadi daya tarik tak tertandingi. Bali bukan hanya destinasi wisata, melainkan juga ruang pertemuan internasional.
Banyak agenda MICE, konferensi, dan forum resmi berlangsung di sini. Arus pengunjung tidak pernah surut, dan kehadiran mereka menciptakan daya beli yang stabil.
Dikelola secara profesional
Dari titik ini, wajar bila investor berani membangun pusat cenderamata besar yang dikelola profesional dan tampil seperti mal kecil.
Dalam perjalanan pulang, saya teringat komentar spontan kawan saya: “Di Tanjungpinang mana ada toko sebesar itu.” Komentar itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan keprihatinan kecil.
Kota kami—meski memiliki potensi dan karakter tersendiri—memang belum mampu melahirkan pusat oleh-oleh yang terkelola dengan baik.
Bukan karena warganya tidak kreatif, melainkan karena arus pengunjung yang tidak sepadat Bali. Tanpa pasar yang cukup, gedung besar hanya akan menjadi ruang kosong.
Pengalaman singkat di toko buah tangan itu membuat saya melihat persoalan dari sisi lain. Kadang kita tergesa ingin meniru keberhasilan daerah wisata besar tanpa memahami fondasinya.
Tumbuh karena pondasi yang kuat
Kita ingin punya mal besar, pusat oleh-oleh megah, atau kawasan belanja tematik. Tetapi kita lupa bahwa semua itu hanya bisa tumbuh bila kota terlebih dahulu memiliki daya tarik yang kuat. Daya tarik itulah yang mendatangkan orang, dan kedatangan oranglah yang menciptakan pasar.
Dalam kasus Bali, citra kota telah bekerja jauh sebelum barang apa pun dipajang di rak. Pengunjung datang bukan semata karena ingin berbelanja, tetapi karena mereka punya hubungan emosional dengan tempat itu—entah karena pantainya, budayanya, kulinernya, suasananya, atau sekadar cerita dari orang-orang terdekat.
Ketika hubungan emosional itu terbentuk, keputusan membeli souvenir menjadi lebih mudah. Barang bukan lagi sekadar barang, tetapi penanda pengalaman.
Pelajaran kecil yang saya dapat dari kunjungan itu sederhana: pembangunan ekonomi daerah tidak selalu harus dimulai dari bangunan megah.
Ia dimulai dari membangun cerita tentang kota, membentuk identitas yang dikenal luas, dan memelihara daya tarik yang membuat orang ingin datang.
Jika hal itu tercapai, toko oleh-oleh megah bukan lagi mimpi yang jauh. Ia hanya menjadi konsekuensi logis dari sebuah kota yang dicintai banyak orang.*
Ridarman Bay
Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (LHKP PWM) Provinsi Kepri.

