Sore itu, saya datang memenuhi undangan soft opening Klinik Kesehatan Muhammadiyah Kepri. Langit di atas Jalan Panglima Dompak, Batu Sembilan, Tanjungpinang, tampak cerah. Lalu lintas tidak seramai pusat kota, hanya beberapa warga yang terlihat berlalu-lalang menikmati sisa hari. Namun, di salah satu sudut jalan itu, suasana terasa berbeda.
Begitu sampai, saya paham kenapa saya harus hadir. Deretan karangan bunga dengan ucapan selamat dari berbagai pihak yang berjejer rapi memberikan sinyal bahwa sesuatu yang besar bagi masyarakat setempat sedang dimulai.
Saya perhatikan, bukan sekadar seremoni biasa, sore itu adalah momen penyalaan harapan. Di hadapan para tamu undangan yang memenuhi tenda sederhana, Muhammadiyah Kepulauan Riau (Kepri) bersiap meresmikan Klinik Kesehatan yang diberi nama Sang Surya.
Ini bukan sekedar seremoni biasa. Menurut saya, ini sebuah langkah yang mungkin terlihat kecil di peta kesehatan nasional, namun menyimpan cita-cita raksasa untuk menerangi kualitas hidup masyarakat di “Bumi Segantang Lada”.
Pita merah terentang kencang di depan pintu masuk. Gunting sudah siap di tangan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kepri, Drs. Huzaifah Dadang, M.Si.
Tepat pada Senin sore (2/2), suara gunting yang memutus pita disambut dengan pecahnya tepuk tangan hadirin. Saya perhatikan, ada binar kebanggaan sekaligus beban tanggung jawab yang terpancar dari wajah-wajah pengurus yang hadir.
Saya merasakan, penanda ini bukan sekadar akhir dari pembangunan fisik, melainkan garis start bagi peran baru Muhammadiyah Kepri di sektor layanan kesehatan.
Peran yang – jujur saya katakan- mestinya dilakoni beberapa waktu lampau. Tapi dengan semangat pelayanan yang biar lambat muncul daripada tidak sama sekali, organisasi keagamaan terbesar di tanah air ini baru mulai bergerak seiring peresmian yang dilaksanakan sore hari itu. Saya menghargai kejujuran timing ini, daripada sekedar pamer rencana tanpa realisasi.
Strategi Lokasi dan Dakwah Sosial
Saya mengamati, klinik Kesehatan Sang Surya tidak berdiri di gedung pencakar langit atau pusat bisnis yang eksklusif. Ia berdiri tegak di tengah permukiman warga, tepatnya di kawasan Batu Sembilan.
Bagi saya, pemilihan lokasi ini mencerminkan filosofi dasar Muhammadiyah: kesehatan bukan sekadar layanan medis yang transaksional, melainkan bagian dari dakwah sosial yang harus menyentuh langsung denyut kehidupan umat.
Ini bukan kebijakan bisnis yang menguntungkan secara komersial, tapi keputusan yang sangat manusiawi.
Yang juga menarik perhatian saya adalah, kehadiran berbagai tokoh penting yang memperlihatkan dukungan lintas sektor. Tampak hadir Kepala RRI Tanjungpinang, Ir. Sulistiyanto Istifarullah, MM, serta Ketua STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang, Ferizone, S.Sos, MPM.
Kehadiran mereka menegaskan bahwa upaya meningkatkan kesehatan masyarakat adalah kerja kolaboratif. Tak ketinggalan, tokoh adat seperti Wakil Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri, Drs. Zamzami A. Karim, M.Si, Ph.D, juga turut menyaksikan momen bersejarah ini, memberikan restu kultural bagi institusi medis tersebut.
Lurah Batu Sembilan, Rajab Eli, S.Sos, bahkan tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Baginya, Klinik Sang Surya adalah “tamu kehormatan” di wilayah administratifnya.
“Saya sangat mengapresiasi karena klinik ini adalah yang pertama secara resmi melapor dan berkoordinasi dengan kami di wilayah kerja ini. Ini adalah teladan administrasi dan niat baik,” ujarnya di sela-sela acara.
Ia pun menitipkan pesan agar pihak klinik aktif bersosialisasi hingga ke akar rumput, yakni tingkat RT dan RW. Saya terharu mendengar dukungannya. Menandakan ia peduli dengan kesehatan warganya.
Konsep Care Health: Melampaui Batas Gedung
Namun, apa yang membuat Klinik Sang Surya berbeda dari klinik pratama lainnya? Jawabannya terletak pada konsep pelayanan yang ditawarkan. Saat Drs. Huzaifah Dadang memberikan sambutan, suasana yang tadinya riuh mendadak hening. Ia menjelaskan bahwa klinik ini tidak akan menggunakan pola pasif.
“Kami menerapkan prinsip care health. Kami sadar, tidak semua orang punya kemampuan fisik untuk menjangkau kami. Jika ada orang tua, lansia, atau warga yang sakit parah dan kesulitan datang ke sini, jangan dipaksakan. Silakan lapor ke bagian pendaftaran, dan dokter kami yang akan mendatangi rumah mereka,” tegas Dadang.
Pernyataan ini disambut tepuk tangan meriah, termasuk saya. Model layanan “jemput bola” atau home visit ini, menurut saya, seolah mengembalikan marwah profesi kedokteran pada nilai empati yang paling dasar.
Di tengah dunia yang semakin digital dan berjarak, Muhammadiyah ingin memastikan bahwa sentuhan kemanusiaan tetap menjadi prioritas utama. Dokter bukan sekadar pemberi resep, tetapi tetangga yang peduli pada kesembuhan warga. Ini yang membuat saya optimis.
Batu Loncatan Menuju Rumah Sakit
Di balik bangunan klinik yang bersahaja ini, saya tahu tersimpan narasi jangka panjang yang ambisius. Di banyak provinsi lain di Indonesia, Muhammadiyah dikenal melalui jaringan rumah sakitnya yang megah dan profesional. Di Kepri, saya menyaksikan perjalanan itu diprakarsai dari sini.
Drs. Edward Mandala, M.Si., selaku Ketua Pembangunan Klinik Kesehatan Sang Surya, mengungkapkan bahwa untuk tahap awal, klinik ini sudah diperkuat oleh empat orang dokter dan tim tenaga medis yang berdedikasi.
“Ini adalah fondasi. Jumlahnya memang masih sederhana, tapi semangatnya adalah gairah membangun cikal bakal Rumah Sakit Muhammadiyah di Kepri,” bisik seorang tamu di sebelah saya penuh optimisme.
Bagi warga sekitar, saya yakin kehadiran klinik ini adalah jawaban atas kebutuhan akan akses kesehatan yang cepat dan terjangkau. Bagi Muhammadiyah, ini adalah perwujudan teologi Al-Ma’un—bahwa kebermanfaatan kepada sesama adalah bukti nyata dari keimanan.
Seiring matahari yang beranjak kelam di ufuk barat Batu Sembilan, acara peresmian pun berakhir. Cahaya lampu dari papan nama “Klinik Sang Surya” mulai menyala terang, seolah menjadi mercusuar baru di Jalan Panglima Dompak.
Langkah kecil ini mungkin baru dirintis, namun saya percaya dengan konsistensi dan prinsip melayani, Sang Surya dipastikan akan terus bersinar, memberi hangat dan terang bagi kesehatan masyarakat Kota Tanjungpinang khususnya dan Kepri umumnya.
Semoga harapan yang saya dan hadirin rasakan sore itu, bukan sekedar euforia sesaat. Mudah-mudahan ini benar-benar awal dari sesuatu yang besar dan berkelanjutan.*
Ridarman Bay
Ketua Lembaga Hikmah & Kebijakan Publik Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (LHKP PWM) Provinsi Kepri.
