Silaknas ICMI: Wisata Intelektual yang Tak Pernah Sepi

Saya sudah beberapa kali mengikuti Silaknas ICMI (Silaturahmi Kerja Nasional Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia). Terakhir saya ikut Silaknas ICMI di Denpasar, Bali, 4-7 Desember 2025. Acara ini dihadiri 700 peserta dari seluruh nusantara.

 

Dari tahun ke tahun, satu hal yang selalu menarik perhatian saya: kegiatan para intelektual itu tak pernah sepi.

 

Jika ada ceramah dari Menteri, pimpinan Lembaga tinggi negara atau tokoh nasional, aula tempat acara digelar hampir selalu penuh sesak.

 

Kursi yang tersedia tidak cukup menampung peserta. Sebagian memilih berdiri di belakang atau menyender di dinding, tetap bertahan mendengarkan hingga sesi terakhir. Ruangan yang semula sejuk menjadi sedikit hangat.

 

Tidak ada yang spektakuler

Padahal, bagi saya, tidak ada hal yang benar-benar “spektakuler” di dalam ruangan itu. Format acaranya hampir sama: ceramah, diskusi, penyampaian pokok pikiran dari narasumber.

 

Tetapi barangkali justru di situlah daya tariknya. Di ruang itu, gagasan-gagasan yang sedang aktual dibicarakan di republik ini dibedah langsung oleh para pemegang kebijakan.

 

Di tengah keramaian itu, saya ngobrol dengan seorang bapak yang duduk di sebelah saya pada salah satu sesi. Ia pensiunan PNS dari Ambon. Dengan ramah ia bercerita bahwa sejak pensiun, ia hampir selalu menghadiri Silaknas ICMI.

 

“Ada tak ada biaya dari organisasi, saya tetap berangkat,” katanya sambil tertawa kecil. Untuk mengikuti acara itu, ia harus merogoh kocek sendiri: tiket pesawat, penginapan, dan biaya lain-lain yang kadang mencapai sepuluh juta rupiah. Namun baginya, itu semua setimpal.

 

Pada kesempatan lain, saya berkenalan dengan seorang ibu dari Gorontalo. Seorang guru besar. Ia mengatakan tidak selalu hadir setiap tahun, tetapi cukup sering. Usianya menginjak 70 tahun, tetapi semangatnya jauh lebih muda.

 

 

Mendapat isu utama

“Di sini saya bisa bersilaturahmi dan mendapat isu-isu utama dari sumber pertama,” ujarnya. Kalimatnya sederhana, tetapi terasa tulus. Ia datang karena ingin belajar, bukan sekadar hadir.

 

Kawan saya malah punya istilah yang lebih menarik. “Kita ini sedang berwisata, Bang,” katanya sambil tersenyum. “Wisata intelektual.”

 

Saya mengangguk waktu itu. Semakin saya pikirkan, istilah itu memang tepat adanya. Silaknas ICMI seolah menjadi ruang rekreasi bagi para cendekiawan—bukan tamasya tubuh, tetapi darmawisata pemikiran.

 

Dari beberapa kali menghadiri Silaknas, saya perhatikan mayoritas pesertanya sudah berusia matang. Banyak pula yang telah sepuh. Mereka rata-rata berpendidikan tinggi: profesor, doktor, atau minimal magister.

 

Ada yang mengkritik kebijakan

Maka tak heran, setiap kali narasumber membuka sesi tanya jawab, penanya hampir selalu memperkenalkan diri lengkap dengan gelarnya. Pertanyaan yang muncul bukan pertanyaan ecek-ecek. Ada yang mengkritik kebijakan dengan halus, ada yang memberi saran konstruktif, ada pula yang memantik dialog filosofis.

 

Di situ saya sering tercekat. Saya yang berasal dari daerah, dengan pendidikan biasa saja, ikut duduk mendengarkan dialog antara para pakar dengan pejabat tinggi negara.

 

Kadang saya hanya bisa mengangguk-angguk senang, berusaha mencerna kedalaman analisa yang mereka utarakan. Tetapi justru di situlah nilai tambahnya. Saya tidak harus menjadi pakar untuk belajar dari suasana itu.

 

Peserta mendapat kepuasan batin

Saya menduga, yang dicari para peserta bukan sekadar konten materi, tetapi kepuasan batin. Ada rasa lega ketika bisa berdialog dengan kepala dingin, bertukar pikiran tanpa suara tinggi, dan menganalisis masalah sesuai norma intelektual yang dihargai bersama.

 

Ruang seperti itu memberikan kesempatan bagi orang untuk berpikir jernih, menemukan sudut pandang baru, bahkan merumuskan gagasan solutif dan inovatif.

 

Saya juga melihat bahwa acara ini menjadi tempat bersua bagi jaringan cendekiawan yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari Aceh hingga Papua, mereka datang dengan latar belakang beragam—akademisi, birokrat, profesional, hingga aktivis sosial.

 

Keberagaman memperkaya diskusi

Keberagaman itulah yang memperkaya diskusi. Setiap orang membawa pengalaman daerahnya masing-masing. Dan di ruang itu, pengalaman-pengalaman itu saling bersinggungan, saling menguatkan, dan saling mempertajam.

 

Barangkali inilah alasan Silaknas ICMI tidak pernah sepi: ia menawarkan sesuatu yang jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari—ruang aman untuk berpikir, untuk berdialog, untuk menyimak gagasan besar tanpa harus merasa terintimidasi oleh apa pun.

 

Ruang yang membuat orang merasa bagian dari percakapan nasional yang lebih luas. Dan bagi saya pribadi, berada di tengah mereka menghadirkan rasa rendah hati sekaligus rasa ingin belajar yang besar.

 

Wisata intelektual

Saya tidak perlu menjadi siapa-siapa. Cukup duduk, mendengar, mencatat, dan membawa pulang sesuatu yang baru.

 

Mungkin benar kata kawan saya itu: Silaknas bukan hanya forum. Ia adalah rekreasi. Wisata intelektual—yang membuat kita pulang dengan kepala yang lebih penuh dan hati yang lebih riang dan lapang.*

 

 

Ridarman Bay

Wakil Ketua Harian II ICMI Orwil Kepri

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *