Thursday, October 6, 2016

Subhanallah, Inilah Gurun Terpanas Di Dunia

Suhunya 43' celcius di tempat yang teduh, namun Dawit -pemuda Ethiopia yang jadi pemandu- mengatakan saya termasuk beruntung, karena biasanya suhu di Danakil bisa mencapai 50' celcius.

Salah satu dari sejumlah daerah yang paling terpelosok, Gurun Danakil di Ethiopia bagian timur laut disebut sebagai hunian terpanas di Bumi. Suhu rata-ratanya dalam setahun adalah 34' celcius dan seperti kata Dawit, gurun ini lebih dikenal dengan sebutan 'Pintu Masuk ke Neraka'.
 erta ale
Erta Ale memiliki danau lava terbesar di dunia.

Mungkin Anda berpikir lanskapnya yang keras membuat tidak ada orang yang berkunjung apalagi dihuni oleh manusia. Tapi gurun ini adalah rumah dari tradisi budaya yang hampir punah, yaitu kafilah unta yang mengangkut garam melalui padang pasir, dipimpin oleh suku Afar yang hidup berpindah-pindah.Gurun Danakil terbentuk dari benturan beberapa lempeng tektonik di Ethiopia, Eritrea, dan perbatasan Djibouti. Gurun ini bukan cuma kawah yang panas tapi juga tempat yang menakjubkan bagi para pengagum geologi.
Setelah menambang garam, orang Afar memotongnya menjadi bongkahan yang lebih kecil.

Mayoritas pengunjung ke sini juga mendatangi Erta Ale -gunung berapi yang sangat aktif dengan ketinggian 600 meter dan danau lahar panas terbesar di dunia. Lanskap vulkanik ini bagaikan sebuah lukisan surealis, dengan mata air belerang, dataran lahar, kolam air panas, dan campuran sulfur, besi oksida, serta garam yang bersatu menciptakan halusinasi susunan dunia lain dan beragam warna.

Orang-orang suku Afar telah menghuni dataran kering ini selama berabad-abad, bertahan hidup dengan menyuling garam dari danau Danakil yang sarat mineral dan mengangkutnya dengan melintasi menggunakan kafilah unta. Seperti suku Kurdi, mereka menempati daerah yang membentang luas sampai ke beberapa negara tapi tidak memiliki hak politik atau perbatasan yang bisa mereka sebut sebagai miliknya.
Kafilah unta pernah membawa garam lebih jauh ke arah Barat sampai jalan raya dibangun.

Walau suku tradisional nomad adalah penggembala, mereka terkenal dengan perangai yang garang, angkuh, mandiri, dan tidak terlalu ramah, ini mungkin karena pengaruh lingkungan mereka yang keras. Sampai pendudukan Italia sewaktu Perang Dunia II, orang-orang Afar dikenal dengan praktik memotong testikal para penyusup asing sebagai bentuk penyambutan.

Meski tidak dilakukan lagi, satu kelompok pemberontak kemerdekaan menculik sekelompok pendatang beberapa tahun lalu, hingga prajurit Ethiopia datang untuk mengamankan kawasan tersebut.
Setiap unta membawa 30 bongkahan garam.

Dawit mengantar kami dengan mobil jeep empat gardan ke Danau Assal di sebelah timur Gurun Danakil, tempat sekelompok orang Afar sedang memuat barang-barang ke atas punggung unta. Perdagangan garam di sini sangatlah berat, para pekerja hanya menggunakan alat pencungkil dan kapak sederhana untuk memotong bongkahan garam di cuaca yang sangat panas hanya untuk 150 birr Ethiopia (sekitar Rp88.000) per hari.

Seorang penggembala muda bernama Mohammed, yang dikenal Dawit dari perjalanan sebelumnya, mendekati kami untuk meminta rokok. Sambil menghembuskan asap rokok, dia bercerita ayahnya mampu memotong 150 bongkahan garam per hari, yang layak mendapat bonus karena kebanyakan pekerja rata-rata hanya mampu memotong sekitar 120 bongkahan.
Orang suku Afar menambang garam dari danau-danau sekitar.

Meski begitu, Mohammed memilih pekerjaan yang lebih mudah dengan upah lebih sedikit, yaitu bekerja memuat bongkahan-bongkahan garam ke punggung unta dan menggiring mereka. Dia menggiring sekitar 15 sampai 20 ekor unta berpunuk satu, setiap ekor dengan muatan 30 bongkahan garam yang masing-masing beratnya 4 kg, melintasi gurun pasir menuju dusun kecil bernama Berahile, dengan jarak tempuh 80 km yang membutuhkan dua hingga tiga hari sekali jalan.

Satu tim menerima upah sekitar 3.320 Birr Ethiopia (sekitar Rp1,9 juta), tapi sebagian besar hasil tersebut diserahkan kepada pemilik unta dan untuk makanan unta, sedangkan Mohammed dan seorang asisten lainnya memperoleh sisanya yang sedikit.
Danakil mengandung keajaiban geologis yang mengagumkan.
Orang Afar sudah tinggal di gurun pasir selama berabad-abad.

Namun Mohammed mempunyai pandangan bisnis. Dia mengatakan terkadang di sela-sela pekerjaannya sebagai penggiring unta di Erta Ale, dia juga mengantar banyak wisatawan yang ingin menginap di puncak gunung. Dengan mata berbinar-binar, dia mengatakan menaruh hati pada seorang gadis di Berahile, jadi selalu menantikan perjalanan melintasi gurun pasir yang berikutnya.

Kafilah unta dulunya digunakan untuk mengangkut garam sampai ke Mekele, ibu kota provinsi bagian barat Ethiopia, tempat garam didistribusikan ke wilayah-wilayah lain di Ethiopia dan di Tanduk Afrika (semenanjung di Afrika Timur yang meliputi negara Somalia, Djibouti, Ethiopia, dan Eritrea). Namun, jalanan aspal yang dibangun 10 tahun lalu mengubahnya, sekarang truk-truk bisa mengambil bongkahan-bongkahan garam dari Berahile.
Danakil merupakan salah satu tempat yang paling terpencil di Bumi.

Perubahan yang lebih besar juga menanti. Tim konstruksi saat ini sedang membangun jalan dari Berahile ke Hamid Ela, pos peradaban terjauh di Danakil, hanya sekitar 50 km dan satu hari berjalan kaki dari tambang garam.

Entah berapa lama lagi barisan unta dan para penggembala Afar akan meneruskan tradisi kuno mereka masih harus ditunggu.

Sumber: BBS indonesia

No comments:

Post a Comment