Wednesday, October 26, 2016

Kisah Sukses Trita yg Menjadi Pembersih Sepatu dengan Latar Belakang Ilmu Kedokteran, WOW

Peluang usaha tak hanya melulu datang sejalur dengan pendidikan. Kegemaran pun bisa mendatangkan uang asal jeli melihat peluang. Begitu yang terjadi pada Tirta Mandira Hudhi, seorang dokter jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, yang merintis jasa pembersihan sepatu shoes and care (SAC), tiga tahun lalu.
TIRTA PEMBERSIH SEPATU

Saat itu, Tirta tak terbayang bisa meraup cuan dari jasa bersih-bersih sepatu. Dia hanya melakukan apa yang jadi kegemarannya. Koleksi sepatu dan membersihkannya di waktu luang. Kini, kerja kerasnya mewujud dalam bentuk 24 toko, dengan total omzet hampir Rp 1,2 miliar setahun. Tapi, jauh sebelum itu, ada kerja keras dan kegigihan yang tak banyak dia ceritakan ke publik. Ini kisahnya.

Berhasil masuk di Fakultas Kedokteran UGM, Tirta gelisah. Bukan karena di fakultas ini dia tak bisa merajut mimpinya. Dia gelisah karena ingin memiliki penghasilan tambahan selain uang saku dari orang tua. Di sisi lain, Tirta tergila-gila dengan aneka sneakers alias sepatu kets. Dia terobsesi ingin mengoleksi aneka macam sepatu, padahal harganya tak murah. Belum lagi soal harga peralatan kuliah yang harganya lumayan menguras kantong.

"Saya awalnya terpikir kerja jadi waiter atau shop keeper buat tambahan uang, tapi kuliah dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore, enggak ada waktu," kata Tirta membuka obrolan dengan KONTAN.

Alhasil, di semester awal kuliah, Tirta mencari peruntungan dengan membuka usaha pakaian. Agar tak mengeluarkan modal, dia pun menerapkan sistem pre-order. Selama enam bulan, Tirta mendulang untung sekitar Rp 3 juta dari usaha pakaian yang dia jaja lewat jalur online. Tak puas, dia menjajal jualan aksesori komputer selama setengah tahun. Lalu setelah dianggap tak lagi tren, Tirta melirik peluang usaha lain yaitu menjual jam tangan Monol yang saat itu tengah digandrungi anak muda. Saya jual jam tangan lumayan lama sekitar satu tahun sampai keuntungan terkumpul sekitar Rp 12 juta, ujar dia.

Tapi, kegemaran mengoleksi sepatu semakin menggebu. Karenanya, dia ingin berbisnis sesuai dengan passion atawa kegemarannya itu. Dengan modal keuntungan berbisnis sebelumnya, pada 2011 Tirta menjajal peruntungannya menjadi penjual sepatu sneakers.

Ternyata, hobi saja tidak cukup. Tanpa perencanaan keuangan yang matang, usaha Tirta menjajakan sepatu pun gagal. Sebab, seluruh modal dia belikan sepatu tanpa menyisakan uang tunai sedikit pun. Alhasil, saat sepatu tak laku, Tirta pun tak makan. Dia mengenang pernah cuma makan nasi pakai garam dan memakan roti basi yang tersisa untuk sekadar bertahan hidup.

Pun demikian, Tirta tak kapok kembali menjajal peruntungannya di bisnis sepatu. Dia kembali memesan sepatu kepada pemasok. Malang tak bisa ditolak, Tirta pun mendapat kiriman sepatu tapi hanya sebelah kiri saja. "Total nilai sepatu kiri semua itu seharga Rp 10 juta," kata Tirta mengenang.

Karena belum menemukan peruntungan di bisnis sepatu, Tirta pun menahan ambisinya untuk sementara. Apalagi ia harus bertanggungjawab dengan janji pada orang tuanya untuk merampungkan kuliah tepat waktu dengan nilai memuaskan. Sampai 2013, Tirta pun hidup seperti mahasiswa pada umumnya yang mengandalkan kiriman dari orang tua.

Mengisi kesibukan

Hobi koleksi sepatu, memang belum bisa menjadi ladang uang, namun tak menyurutkan minat lelaki kelahiran Karanganyar, 30 Juli 1991 ini menggandrungi aneka macam sneakers. Dia pun kerap semedi dan menghabiskan di depan YouTube untuk belajar tutorial dan cara membersihkan sepatu.

Hobi Tirta pun bertambah dari sekadar mengoleksi menjadi gemar membersihkan sepatu koleksinya di sela-sela kesibukan kuliah dan sepulang praktik dokter muda atau ko-as. Apalagi dia punya banyak sepatu yang belum terjual. Dia pun membersihkan sepatu-sepatu tersebut berikut dengan koleksinya. Ternyata setelah dibersihkan, sepatu tersebut laku.

Dari sana, keterampilan Tirta membersihkan sepatu pun menyebar. Banyak orang mengenal Tirta sebagai pembersih sepatu. Tak ayal, tempat indekos pun kerap didatangi orang yang membawa sepatu kotor. Dengan senang hati, Tirta membersihkan sepatu dan menarik bayaran atas jasanya. Dengan modal Rp 400.000, Tirta pun resmi membuka jasa tersebut pada tahun 2013 di kosnya.

Hingga pada awal 2014, bencana Gunung Kelud meletus pun membawa berkah tersendiri bagi usaha Tirta. Setiap hari, lelaki berkacamata ini bisa menerima 300 pasang sepatu. "Sepatu-sepatu kotor itu bukan hanya datang dari kota Yogyakarta tapi juga luar kota. Bahkan, ongkos kirimnya lebih mahal daripada ongkos cucinya mereka pun mau," kata dia.

Tirta pun terpaksa membawa usahanya keluar dari indekos yang terletak di Sleman dan menyewa sebuah kios kecil di daerah Alun-alun Kidul. Dengan modal Rp 25 juta, Tirta membuka gerai pertamanya. Sejak saat itu, setiap tiga bulan sekali Tirta membuka toko baru. "Ini saya lakukan untuk menjaga momentum, agar bisnis kita selalu diingat orang, jadi walau belum balik modal kami usahakan buka gerai baru setiap tiga bulan," kata suami dari dr. Medisca Rhoza ini.

Dengan sistem kemitraan, ekspansi pun lebih cepat. Kini, dalam waktu tiga tahun, SAC punya 24 toko yang tersebar di berbagai daerah termasuk Singapura. Dari 24 toko, ada 10 toko yang mengusung konsep kemitraan, dan ada 6 toko yang tak perlu Tirta bayar sewanya karena pemiliki bersedia menjadi mitra dengan sistem bagi hasil. Walau begitu, persentase kepemilikan Tirta lebih besar. Hal ini dilakukan agar Tirta bisa memegang kendali dan jadi pengambil keputusan bisnis.

Berdayakan Anak Jalanan

Sebagai anak tunggal, Tirta menjadikan orang sebagai panutan utama. Ada beberapa hal yang ia contoh, bahkan dia membuktikan dirinya bisa lebih berhasil dari orang tua. Semua semata-mata untuk membahagiakan orang tua. Meskipun sebagai anak semata wayang, orang tua Tirta tidak pernah memanjakan dirinya, tapi memberikan pendidikan yang cukup keras dan disiplin. Tirta kecil tak pernah mendapat hadiah secara cuma-cuma. Setiap ada keinginan saya pasti diminta untuk menabung lebih dahulu, kata Tirta.

Sejak kecil, ayah dari Adriano Alfarezel Tirtayoga ini sudah gandrung dengan sepatu. Walau begitu, orang tua tak pernah membelikan sepatu begitu saja. Saat Sekolah Menengah Pertama (SMP), Tirta sempat ingin membeli sepatu sneakers seharga Rp 125.000. "Saya harus menabung sehari Rp 1.000 sampai dapat tiga bulan baru beli, dan saya pakai sampai rusak hanya setahun saja," kenang dia.

Didikan ini yang memecut mentalnya untuk menjadi seorang yang mandiri. Meski bercita-cita menjadi dokter sedari kecil, Tirta menganggap cita-cita berprofesi sebagai dokter adalah panggilan jiwanya. Sementara keinginan mengembangkan, SAC berorientasi profit. Satu hal yang membuat bisnis Tirta berbeda dari kebanyakan pengusaha muda adalah berorientasi sosial. Tirta berusaha memberikan pengaruh sosial dengan mempekerjakan anak jalanan sebagai karyawannya. Bagi Tirta, anak jalanan adalah manusia yang memiliki potensi dan perlu kesempatan untuk dikembangkan.

Saat ini, ada sebanyak 98 karyawan di SAC, yang separuhnya berasal dari anak jalanan. Ia pun punya komitmen untuk merekrut mereka, karena wajah Indonesia ada pada anak dan generasi muda. Susah sekali karena mereka ada yang mabuk, tawuran dan susah diajarkan tapi begitu mereka sudah menjadi baik, mereka sangat loyal, tandas dia.

No comments:

Post a Comment