Saturday, October 1, 2016

Banyak yang Bertanya Kenapa Kita Tidak Bisa Mengingat Peristiwa Sewakti Bayi, Inilah Penjelasannya

Anda pergi makan siang bersama seseorang yang Anda kenal selama bertahun-tahun. Bersama-sama, Anda mengadakan pesta, merayakan ulang tahun, mengunjungi taman dan sama-sama suka es krim.

Bahkan Anda pergi liburan bersama-sama. Mereka bahkan menghabiskan banyak uang buat Anda – sekitar £63.224 atau Rp1 miliar lebih. Masalahnya: Anda sama sekali tak ingat semua itu.

Dari momen paling dramatis dalam hidup Anda – hari lahir – sampai langkah pertama, kata-kata pertama, makanan pertama, sampai penitipan bayi, sebagian besar orang tak bisa mengingat apa-apa dari tahun-tahun pertama kita.

Bahkan setelah memori pertama yang berharga, ingatan ini cenderung sedikit dan jarang muncul sampai kemudian masa kanak-kanak. Kenapa?

Kekosongan dalam rekaman kehidupan kita ini membuat frustrasi para orang tua dan membuat psikolog, ahli saraf dan ahli bahasa kebingungan selama beberapa puluh tahun.

Hal ini menjadi obsesi kecil bagi Bapak Psikoterapis, Sigmund Freud, yang menyebut fenomena ini sebagai infant amnesia atau ‘amnesia bayi’, lebih dari 100 tahun lalu.

Dengan berusaha membongkar kekosongan mental ini, maka muncul pertanyaan-pertanyaan menarik.

Apakah memori itu benar terjadi atau hanya karangan? Bisakah kita mengingat suatu peristiwa tanpa kata-kata untuk menggambarkannya? Dan mungkinkah suatu hari kita memperoleh kembali ingatan ini?Sebagian dari teka-teki ini bersumber dari fakta bahwa bayi bisa menyerap berbagai informasi baru, seperti sebuah spons, dan membentuk 700 koneksi saraf baru setiap detiknya dan menajamkan kemampuan berbahasa sampai bisa membuat iri seorang polyglot, atau orang yang bisa menguasai banyak bahasa.

Penelitian terbaru menemukan bahwa bayi bahkan mulai melatih otak sebelum meninggalkan rahim.

Tapi, saat kita dewasa pun, informasi sering hilang atau terlupakan jika tak ada upaya mempertahankannya.

Maka satu penjelasan yang muncul adalah amnesia bayi terjadi karena proses alami melupakan berbagai pengalaman yang kita miliki sepanjang hidup.

Sebuah jawaban muncul dari penelitian oleh psikolog Jerman dari abad 19, Hermann Ebbinghaus, yang melakukan serangkaian eksperimen pionir pada dirinya sendiri untuk menguji batas memori manusia.

Demi memastikan bahwa ingatannya adalah kanvas kosong, dia menciptakan “suku kata tak bermakna” atau “nonsense syllable” – kata-kata yang terdiri dari huruf acak, seperti “kag” atau “slans” – dan kemudian berusaha mengingat ribuan kata-kata ini.Dia pun mencatat penurunan kemampuan untuk mengingat hal-hal yang sudah dipelajari: jika dibiarkan, otak kita akan membuang materi-materi baru dalam satu jam. Setelah hari ke-30, kita hanya mengingat 2-3%.

Secara krusial, Ebbinghaus menemukan bahwa cara kita melupakan sesuatu itu sangat mudah ditebak. Untuk mencari tahu apakah memori bayi berbeda, kita tinggal membandingkannya dengan catatan yang dibuat Ebbinghaus.

Saat mereka melakukannya pada 1980an, ilmuwan menemukan bahwa kita mengingat lebih sedikit memori antara kelahiran sampai usia enam atau tujuh tahun daripada yang dibayangkan. Jelas, ada sesuatu yang berbeda yang terjadi.

Yang menarik, bagi beberapa orang, mereka bisa mengingat lebih cepat. Ada orang yang bisa mengingat kejadian sejak mereka berusia dua tahun, sementara yang lain tak bisa mengingat apapun yang terjadi pada mereka sampai mereka berusia tujuh atau delapan tahun.

Rata-rata, ada kilasan ingatan yang kabur yang muncul dari saat seseorang berusia tiga setengah tahun. Dan yang lebih menarik lagi, tercatat ada kesenjangan melupakan antara satu negara ke negara lain, dan rata-rata ingatan terawal seseorang bisa bervariasi sampai dua tahun.

Apakah temuan ini bisa memberikan penjelasan atas kekosongan ingatan saat bayi tersebut? Untuk mencari tahu, psikolog Qi Wang di Cornell University mengumpulkan ratusan ingatan dari mahasiswa di universitas di Cina dan Amerika.Seperti yang sudah diperkirakan lewat stereotipe nasional, kisah-kisah dari Amerika lebih panjang, lebih detil dan sangat egosentris.

Sementara itu kisah-kisah dari Cina, lebih singkat dan lebih faktual; rata-rata, kisah itu juga dimulai atau diingat enam bulan lebih lambat.

Pola ini didukung oleh berbagai penelitian. Mereka dengan memori yang lebih mendetil dan terfokus pada diri sendiri justru lebih mudah diingat.

Ada pandangan bahwa fokus pada diri sendiri bisa membantu Anda, karena dengan membangun sudut pandang Anda sendiri, maka peristiwa jadi punya makna.

“Ada perbedaan antara berpikir ‘Ada harimau di kebun binatang’ dengan ‘Saya melihat harimau di kebun binatang dan meski saya takut pada harimau, tapi saya merasa senang’,” kata Robyn Fivush, psikolog di Emory University.

Saat Wang melakukan eksperimen yang sama, namun kali ini menanyakannya pada ibu anak-anak tersebut, dia menemukan pola yang sama.

Dengan kata lain, jika ingatan Anda akan masa bayi ini kabur, maka salahkanlah orang tua.

Ingatan pertama Wang adalah mendaki gunung di dekat rumah keluarganya di Chonqqing, Cina, dengan ibu dan saudarinya.

Usianya sekitar enam tahun. Tapi, sampai dia tinggal di Amerika Serikat, dia tak pernah ditanya. “Di budaya timur, ingatan masa kecil tak terlalu penting. Orang berpikir, ‘kenapa kamu mau tahu?’” katanya.

“Jika masyarakat mengatakan pada Anda bahwa ingatan ini penting buat Anda, maka Anda akan mempertahankannya,” kata Wang.

Kelompok yang tercatat mampu mengingat memori terawal dalam hidup mereka adalah orang-orang Maori di Selandia Baru, yang budayanya punya penekanan berat pada masa lalu.

Banyak orang di sana yang bisa mengingat peristiwa yang terjadi saat mereka baru berusia dua setengah tahun.

Budaya kita juga menentukan cara kita mengingat memori tersebut, beberapa psikolog berargumen bahwa ingatan ini muncul ketika kita sudah menguasai kemampuan berbicara.

“Bahasa bisa membantu menyediakan struktur, atau pengaturan, akan memori kita, dan itu adalah sebuah narasi. Dengan menciptakan sebuah kisah, pengalaman ini jadi lebih terorganisir, dan maka jadi lebih mudah diingat,” kata Fivush.

Meski begitu, beberapa psikolog skeptis akan pandangan bahwa bahasa memainkan peranan yang besar.

Pasalnya, tak ada perbedaan usia ingatan paling awal pada anak-anak yang terlahir tunarungu dan tumbuh tanpa mengetahui bahasa isyarat.

Hal ini memicu teori bahwa alasan kita tak bisa mengingat tahun-tahun pertama kita adalah karena otak kita belum mengembangkan peralatan yang dibutuhkan.

Penjelasan ini muncul dari pria paling terkenal dalam sejarah ilmu saraf, dikenal hanya dengan nama pasien HM.
 kenapa kita tidak bisa mengingat masa kecil
Sebagian psikolog berargumen bahwa kemampuan membentuk ingatan autobiografis datang dari kemampuan berbicara.

Setelah operasi menyembuhkan epilepsi yang dia jalani gagal, hipokampusnya rusak sehingga HM tak bisa mengingat peristiwa-peristiwa baru.

“Hipokampus adalah pusat kemampuan kita belajar dan mengingat. Jika bukan karena hipokampus, saya tak bisa mengingat percakapan ini sekarang,” kata Jeffrey Fagen, yang meneliti ingatan dan pembelajaran di St John’s University.

Yang menariknya, HM tetap mampu mempelajari informasi-informasi baru – persis seperti bayi.

Saat ilmuwan memintanya untuk menggambar bintang dari lima titik dengan melihatnya di kaca (hal ini terdengar mudah, tapi sebenarnya sulit dilakukan), HM melakukannya dengan lebih baik setiap kali dia melakukannya – meski pengalaman ini benar-benar baru baginya.

Mungkin saat kita sangat muda, hipokampus belum cukup berkembang untuk membangun memori yang kaya akan sebuah peristiwa.

Bayi tikus, monyet dan manusia terus menambah saraf-saraf baru di hipokampus dalam beberapa tahun pertama hidup mereka, dan kita pun tak mampu membentuk ingatan yang bisa bertahan dari masa bayi kita – dan tampaknya, saat kita berhenti mengembangkan neuron-neuron baru, maka kita mampu membentuk ingatan jangka panjang.

“Bagi bayi dan balita, hipokampus masih belum berkembang,” kata Fagen.

Namun apakah hipokampus yang belum berkembang ini yang menghilangkan ingatan jangka panjang kita atau malah ingatan itu tak pernah terbentuk?

Karena peristiwa di masa kecil terus mempengaruhi perilaku kita lama setelah kita melupakannya, maka psikolog berpikir bahwa ingatan ini bertahan di suatu tempat.

“Ingatan ini mungkin tersimpan di suatu tempat yang kini tak bisa diakses, namun sulit untuk menunjukkan itu secara empiris,” kata Fagen.

Maka kita harus berhati-hati saat mengingat apa yang terjadi pada masa itu – masa kecil kita mungkin penuh dengan ingatan palsu akan peristiwa yang sebenarnya tak pernah terjadi.

Elizabeth Loftus, psikolog di University of California, Irvine, mengadikan kariernya pada fenomena tersebut.

“Orang bisa mengambil suatu sugesti dan mulai memvisualisasikannya – sehingga jadi semacam ingatan,” katanya.
Peristiwa imajiner

Loftus mengalami dan mengetahui sendiri betapa mudahnya hal ini terjadi.

Ibunya tenggelam di kolam renang saat Loftus berusia 16.

Beberapa tahun kemudian, seorang kerabat meyakinkannya bahwa dialah yang menemukan tubuh ibunya yang mengambang.

Semua ingatan itu pun muncul kembali, sampai seminggu kemudian, kerabat yang sama menelpon dan menjelaskan bahwa dia keliru – orang lainlah yang menemukan tubuh ibunya.

Tentu saja, tak ada orang yang suka jika ingatannya dibilang tidak nyata. Untuk meyakinkan mereka yang skeptis, Loftus tahu bahwa dia butuh bukti tak terbantahkan.

Pada 1980an, dia merekrut relawan untuk sebuah penelitian dan menanamkan ingatan itu.Image copyrightSIMPLEINSOMNIA FLICKR CC BY 2.0Image captionKadang kita tak bisa mempercayai keakuratan ingatan awal kita - kadang hal itu terbentuk oleh percakapan tentang ingatan tersebut.

Loftus pun mengarang sebuah kisah bohong yang detil tentang perjalanan traumatis ke pusat perbelanjaan, lalu hilang dan tersesat, kemudian diselamatkan oleh seorang perempuan tua yang baik dan bisa berkumpul lagi dengan keluarga.

Agar peristiwa itu lebih meyakinkan, dia bahkan melibatkan keluarga para relawan ini.

“Pada dasarnya, kami bilang pada peserta penelitian, ‘kami sudah bicara ke ibu Anda, dan ibu Anda menceritakan beberapa peristiwa yang terjadi pada Anda.’”

Hampir sepertiga dari korbannya percaya, dan bahkan ada yang mengingat peristiwa itu sampai rinci. Kita bahkan lebih yakin pada ingatan imajiner itu daripada ingatan yang betul-betul terjadi.

Bahkan saat ingatan ini berdasar pada peristiwa nyata, ingatan ini mungkin sudah dibentuk ulang dan dimodifikasi saat kita mengingatnya lagi – ingatan yang ditanam lewat perakapan daripada ingatan orang pertama akan peristiwa sebenarnya.

Ingat saat Anda merasa akan lucu jika mencoret-coret adik dengan spidol permanen agar dia bisa jadi zebra? Anda melihatnya di video keluarga.

Kue luar biasa yang dibuat oleh ibu Anda saat ulang tahun ketiga? Kakak Andalah yang menceritakan tentang itu.

Mungkin misteri terbesarnya bukan pada kenapa kita tak bisa mengingat masa kecil kita – tapi apakah peristiwa-peristiwa itu benar pernah terjadi.

No comments:

Post a Comment