Sunday, September 18, 2016

Desa ini Hebat Dan Patut Dicontoh oleh Desa-desa Indonesia Lainnya

Desa di daerah pegunungan di Sulawesi Selatan, Bone Bone, dalam 11 tahun terakhir menjadi desa bebas rokok, langkah yang diambil karena tingginya angka kemiskinan di sana.

Abdul Wahid, kepala desa Bone Bone yang terletak di kabupaten Enrekang, mengatakan lebih dari 800 jiwa warganya masih tetap tak merokok setelah larangan ini diterapkan pada 2005.

Namun ia mengakui sejumlah perantau yang kembali ke desa masih ada yang merokok namun mendapatkan sanksi seperti "membersihkan masjid, memperbaiki jalan yang rusak."

Keberhasilan desa ini menjadi kawasan bebas rokok juga diikuti oleh bupati, camat dan sejumlah kepala desa lain, kata Abdul.

Jumlah pria perokok di Indonesia di atas usia 15 tahun merupakan jumlah terbesar di dunia dan mencapai lebih dari 53 juta, menurut data Tobacco Atlas pada 2015 setelah Cina dan Rusia. Lebih dari 217.000 orang meninggal akibat penyakit terkait rokok menurut organisasi

  desa bebas rokok

Lebih dari 50% penduduk desa Bone Bone adalah pria.

Pemerintah Indonesia sendiri tengah mengkaji jumlah kenaikan harga rokok untuk melindungi kesehatan masyarakat dan juga menambah pemasukan negara.

Keberhasilan Bone Bone menjadi desa bebas rokok dimulai dari kepala desa sebelumnya Muhammad Idris yang merasa prihatin karena 70% warganya sebelum tahun 2000 adalah perokok, kata Abdul.
Tantangan terberat perantau yang pulang kampung


Sekitar 70% penduduk di desa ini merokok sebelum larangan diterapkan.

Tingginya jumlah perokok ini yang diperkirakan Idris saat itu menjadi salah satu penyebab kemiskinan di desa yang terletak sekitar 300 kilometer dari ibu kota Makassar ini.

"Sebelumnya 70% penduduk desa anak-anak adalah perokok termasuk anak-anak yang kala itu nakal. Ekonomi juga sulit....dan Pak Idris saat itu mengumpulkan warga dan mengatakan tak bisa membangun desa dari segi pendidikan kalau masyarakat masih tetap merokok. Dari situlah Pak Idris memulai langkah ini," kata Abdul kepada BBC Indonesia.

Pada tahun 2000 langkah melarang merokok mulai diterapkan dan baru secara total dimulai
 lima tahun kemudian, tambahnya
. desa bebas asap rokok

Tantangan terbesar dalam larangan rokok adalah perantau kata kepala desa, Abdul Wahid.

"Salah satu tantangan berat buat saya adalah anak-anak perantau. Biasanya ke kampung orang bertahun-tahun dan datang kembali...biasanya langsung merokok saat datang lagi."

"Sanksinya biasa ditegur dulu untuk perantau...biasanya sanksi sosial lain adalah membersihkan masjid, memperbaiki jalanan yang rusak untuk kepentingan umum," kata Abdul
. bone bone

Desa bebas rokok ini menjadi kajian institusi luar negeri beberapa kali.

Ia juga mengatakan status bebas rokok ini menjadikan desa ini sebaai tempat penelitian beberapa institusi dari luar negeri termasuk dari Australia dan Jepang.

Bulan lalu sempat muncul wacana kenaikan harga rokok menjadi Rp50.000 menyusul kajian dari Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia yang menyebutkan usulan kenaikan harga rokok menjadi dua kali lipat disepakati perokok sendiri.

Studi dari FKM UI ini meneliti dukungan publik atas kenaikan harga rokok guna mendanai Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atau dikenal dengan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial).

No comments:

Post a Comment