Friday, April 22, 2016

Subhanallah Inilah Kisah Kuburan Yang Dipenuhi Kotoran Kucing

Suatu siang, di sebuah kampung kecil di sebuah kota kecil, ada satu pemandangan aneh. 
Bagi penduduk kampung sekitar, hal tersebut mungkin bukan aneh lagi. Pasalnya, hal itu sudah cukup lama terjadi, jadi sudah tidak lagi dianggap aneh. Tapi, bagi Hidayah, ini tentu kejadian tak wajar. Sebuah tanah kuburan dipenuhi banyak kotoran kucing. 
Kadang kucing menjadikannya tempat peristirahatan. 
 kucing


Anehnya lagi, hanya ada satu kuburan yang dipenuhi kotoran. Sementara itu, kuburan yang lain justru tidak. Padahal, di lokasi itu ada enam makam. Tanah tersebut milik salah seorang tokoh di kampung itu, dan menjadikannya sebagai tempat pemakaman keluarga secara turun-temurun. 
Jika diperhatikan, tanah yang dijadikan lokasi kuburan luasnya mencapai 400 m2. 

Di sana juga terdapat kebun pisang dan pepaya. Ada beberapa pohon besar, yaitu pohon asem. Usianya cukup tua. Ini terlihat dari batang pohon yang berdiameter cukup besar. 
Menurut para ahli perilaku binatang, kucing termasuk hewan yang cukup peduli untuk urusan kotorannya. Mereka umumnya jarang buang air besar di sembarang tempat. Jika di depannya ada tanah yang bisa digali, maka kucing akan membuang kotorannya dengan menggali tanah dan menguburnya dengan tanah. Setelah selesai, kucing akan menimbun rapi kotoranya dengan tanah. Bahkan, sebelum pergi meninggalkan tempat, kucing memastikan dulu apakah masih tercium bau atau tidak. Kalau masih bau, mereka akan mengendusinya dulu. 
Kalau ternyata memang masih bau, kucing menambahkan tanah di atasnya. Itulah kucing. Ia umumnya betah membuang kotoran di tanah yang berdebu atau berpasir. Bila dibanding dengan hewan lain, kucing punya perilaku unik. Tapi, di tanah kuburan itu, kucing justru membuang kotorannya di tanah yang tergolong keras dan tak berdebu maupun berpasir. 
Peristiwa ini sudah lama terjadi. Bahkan, tanah kuburan itu kini seperti WC bagi sekompok kucing. Warga sekitar pun tidak lagi memperdulikannya. Sebab, menurut keterangan warga, kucing-kucing tersebut sudah tidak mau pindah. 

Beberapa kali warga mengusirnya agar tidak membuang kotoran di atas tanah kuburan. Bahkan, dulu, waktu usia ma­kam itu masih belum lama, pihak keluarga almarhum rajin membersihkan kotoran di kuburan itu. Tapi, kucing-kucing itu ternyata tetap membandel. Akibatnya, lama-lama mereka bosan dan malas sendiri dengan ulah para kucing itu. 
Warga juga pernah membantu. Hampir seminggu sekali warga di sekitar kuburan membersihkannya. Ini dilakukan karena merasa kasihan pada keluarga almarhum. 
Tapi, ya, namanya juga kucing. Mereka tetap saja membandel. Bahkan, hingga kini, kucing-kucing itu masih saja membuang air besar di kuburan itu. Perilaku Aneh Hidayah lalu bertemu dengan seorang nenek di tempat itu. Ia tengah duduk asyik di samping rumahnya. 
Ditemani cucunya yang masih kecil, ia menebar senyum kepada kami. Deretan gigi yang sudah tak lengkap menghiasi penampilannya yang kian sepuh. 

Rambutnya memutih. Kulit di tubuh pun tampak keriput. Pendek kata, ia sudah terlihat uzur. Menurut warga, nenek ini adalah salah seorang teman dari ahli kubur yang makamnya aneh itu. Orang memanggilnya Mbak Warn 70 thn, nama samaran). Ia sangat dekat dengan almarhum sewaktu hidupnya. Kami lalu mencoba mengorek informasi seputar kuburan yang sedikit ganjil itu. Sang nenek lalu mempersilahkan kami duduk di bangku yang terletak di damping rumahnya. Ia tak keberatan untuk diajak berbincang-bincang. 
Kata Mbah Warni, ahli kubur yang makamnya ganjil itu bernama Sumirnah (nama samaran). Ia me­ninggal di usia 56 tahun. Ia adalah istri seorang saudagar beras di kam­pung itu. 
Tanah sawah milik sua­minya begitu luas. Jumlahnya mungkin mencapai ratusan hektar. Saat ini, anak-anaknya mewarisi seluruh kekayaan sang suami. Sumirnah meninggal tak lama setelah suaminya meninggal dunia. Ia menghembuskan nafas terakhir setelah penyakit yang ia derita tak jua terobati. Mbah Warni sendiri tak tahu persis apa penyakit yang diderita Sumirnah. 
Ya, itu mungkin sudah ajal dan suratan Ilahi Rabbi. Yang pasti, kata Mbah Warni, setelah suaminya meninggal, Sumirnah menjalani hidup tak seperti dulu. Ia banyak melamun dan menyendiri. Sumirnah punya enam anak. Satu diantaranya sudah meninggal dunia kerena peristiwa kecelakaan. Semua anaknya sudah berumah tangga. Satu anaknya tinggal di pulau seberang. Sementara anaknya yang lain tinggal di kampung tersebut, dan meneruskan usaha warisan orangtua. 
Semua penduduk sangat menghormati keluarga itu. Pasalnya, keluarga itu tergolong terpandang dan keluarga kaya di kampung ter­se­but. Lebih lanjut, Mbah Warni menceritakan bahwa Sumirnah meninggal dunia di rumah. Kalau tidak salah ia meninggal di waktu malam. Jasad Sumirnah kemudian dimakamkan keesokan harinya. Tidak ada yang aneh pada prosesi pemakaman jasad Sumirnah. Jasadnya dimandikan, dikafani, dishalati, dan kemudian dimakamkan. Banyak warga ikut mengantarkan jasadnya ke tempat peristirahatan terakhir. Ia dimakamkan di sebidang ta­nah milik suaminya. Tanah itu merupakan tanah turun-temurun yang digunakan untuk kuburan pihak keluarga. Setiap ada anggota keluarga meninggal, maka jasadnya dimakamkan di tanah itu. Tidak boleh ada makam orang lain yang bukan keluarga. 

Pada dasarnya, kata Mbah Warni, keluarga Sumirnah merupakan keluarga yang baik. Anak-anaknya juga dulu sangat baik. Namun, berbagai perilaku aneh dilakukan anak-anaknya setelah suaminya meninggal. Anak-anaknya sering mengikuti usaha yang konon mengandung unsur judi. Padahal, suaminya merupakan saudagar jujur dan tekun. Suaminya memiliki tanah dari hasil keringatnya sendiri. Begitu juga dengan Sumirnah. Sepeninggal suaminya ia menjadi wanita yang kurang bergaul dengan masyarakat. Ia lebih banyak berada di rumah dan hampir tak pernah mengikuti kegiatan di masyarakat. Padahal, dulu, sewaktu suaminya masih hidup, ia tidak sungkan-sungkan untuk bergabung dan mengikuti kegiatan sosial di masyarakat. Ada beberapa praduga yang mun­cul di tengah warga. Pertama, Sumirnah berubah menjadi wanita pemurung lantaran ia banyak memikirkan anak-anaknya yang sudah berperilaku ‘aneh’. Kedua, Sumirnah banyak murung karena terlalu berduka sete­lah ditinggal suaminya. 
Ia lalu sa­kit-sakitan akibat terlalu banyak pikiran. Ketiga, ia menjadi murung lantaran ia terkena santet atau teluh dari musuh-musuh suaminya. Keempat, ia berubah menjadi wanita pemurung lantaran sudah tidak mau shalat lagi setelah sua­minya meninggal. Ia kian jauh dari ajaran agama. Semua praduga dan anggapan itu muncul setelah warga mengetahui perubahan drastis yang dialami Sumirnah. 

Namun begitu, kata Mbah Warni, semua itu baru praduga dan tak bisa dibenarkan 100 persen. Itu semua hanya bagian dari obrolan ibu-ibu di dapur saja. Lantas, kenapa makam Sumirnah menjadi ‘tidak terhormat’? Kenapa makamnya dijadikan ‘kakus’ oleh kucing-kucing di kampung itu? Adakah hubungannya antara kucing dan perilaku Sumirnah? Kematian Kucing Mbah Warni dan beberapa warga tidak bisa memastikan kenapa makam Sumirnah selalu dikotori oleh kotoran kucing. 
Mereka juga tidak bisa men-judge bahwa semua itu ada kaitannya dengan kucing dan perilaku Sumirnah sewaktu hidupnya. 

Tapi, yang jelas, itu se­mua menjadi misteri yang sulit di­ungkap. Beberapa warga memang me­ngakui bahwa Sumirnah telah ber­ubah setelah suaminya meninggal. Dia menjadi pelit, tidak mau bersedekah, tidak mau bergaul, tidak mau menjalankan shalat, dan suka meminta bantuan ke para dukun. Untuk hal ini, Mbah Warni meng­akui bahwa Sumirnah memang mulai pelit. Ia tidak mau membantu tetangga yang sedang kesusahan. Pa­dahal, sewaktu suaminya masih hi­dup, Sumirnah tergolong orang ber­tangan terbuka kepada siapa saja. Mbah Warni sendiri berani menjadi saksi untuk hal itu. beberapa ka­li ia menerima keluhan tetangga yang ketika meminta bantuan kepada Sumirnah, mereka justru dihina dan direndahkan. Bagi Sumirnah, meminta uang atau meminjam uang hanya akan merepotkan keluarga saja. 

Meski begitu, Mbah Warni ti­dak pernah meminta bantuan kepada Sumirnah. Di samping itu, Sumirnah juga ter­golong orang yang sudah meninggalkan shalat. Ia bahkan tidak pernah diketahui menja­lankan shalat lima waktu. Hal ini dibenarkan oleh pengakuan beberapa pegawainya. Mereka per­nah bercerita kepada te­tangga bahwa Sumirnah sudah tidak mau shalat lagi. Menurut Sumirnah, konon, shalat tidak bisa menolong orang yang sedang kesusahan. Termasuk dirinya yang sedang galau lantaran ditinggal suami tercinta. Itulah sebabnya, kegalaun hatinya kian bertambah ketika dirinya jauh dari Allah. Ditambah lagi, konon, ia sering meminta bantuan kepada dukun untuk mengamankan aset warisan suaminya dari tangan-tangan ‘jahil’. 

Terus, bagaimana hubungannya dengan kucing? Nah, untuk hal ini sulit dibuktikan. Pasalnya, setahu Mbah Warni, keluarga Su­mir­nah merupakan pencinta binatang. Di rumahnya terdapat banyak hewan peliaraan, diantaranya burung, ke­linci, ayam jago, dan kucing ru­mah­an. Semua hewan itu sangat disenangi suaminya. Terlebih hewan kucing. Kendati begitu, lanjut Mbah Warni, dirinya memang sempat mendengar kabar tentang kondisi kucing kesayangan sang suami, yang sudah tidak disenangi Sumirnah. Bahkan, kala itu, ada kabar bahwa Sumirnah sempat membunuh seekor kucing lantaran kucing tersebut memakan burung kesayangannya. Ya, Sumirnah memang sayang pada burung. Suaminya gemar kucing, sementara Sumirnah sayang pada burung. Waktu itu, Sumirnah memelihara burung sangat cantik dan mahal. 

Harganya, kalau dijual, mungkin mencapai jutaan rupiah. Diantara burung yang lain, burung tersebut merupakan burung paling ia sayangi. Tapi, satu hari, ketika Sumirnah pergi ke pasar bersama cucunya, seekor kucing memakan burung itu. Ia melahap habis daging burung, yang sedang ditinggal pemiliknya itu. Sepulangnya dari pasar, Sumirnah marah besar. Darahnya naik pitam. Ia murka laksana seorang satria yang sedang durja kepada musuhnya. Ia lalu mendapati beberapa helai bulu milik burungnya yang masih menempel di sela bulu kucing. Tak salah lagi, pikir Sumirnah, bahwa yang memakan burungnya adalah kucing itu. Saat itu pula, kucing itu menjadi tertuduh utama. Sumirnah lalu mengambil sebilah kayu sapu berukuran cukup besar dan memukulkannya ke arah kepala kucing. Kontan saja, tubuh kucing itu terbang ke arah dapur. Tubuhnya terpental beberapa meter. Sumirnah memukul sangat keras sekali. Saking kerasnya, kepala kucing itu pecah dan berdarah. 
Ia langsung tergeletak di lantai dan terkelepak, laksana seekor ayam yang baru saja disembelih. Darah bercucuran dan mengalir dari kepala kucing itu. Untuk beberapa saat, kucing itu bisa bertahan hidup. Ia meronta-ronta. Namun, karena tubuhnya lemas, ia tak bisa lari dari majikannya. Sumirnah pun menghampirinya. Ia sama sekali tak merasa iba pada binatang berbulu halus itu. “Nah, rasain kamu. Enak sekali kamu memakan burungku. Itu har­ganya mahal. Tak sebanding dengan tubuh kamu yang tak bisa menghasilkan uang sama sekali,” kata Sumirnah, mengumpat. 
Ia terlihat sumringah. Rasa kesalnya terlampiaskan sudah. Kucing itu sudah menerima hukuman yang setimpal. Bagi dia, itu sebenarnya tidaklah cukup untuk membalas atas kesalahan kucing itu. Karenanya, ia lalu memukulkan batang kayu sapu itu lagi, dan tepat di bagian leher. 
Akibatnya, seketika itu kucing mati dan tak bernyawa. Sumirnah lalu menyeret tubuh kucing itu dengan sebilah batang kayu sapu. 
Ia mendorong tubuh binatang itu ke luar rumah. Ia lalu menyuruh salah seorang pegawainya untuk membuang tubuh kucing itu ke sungai. “Buang saja ke sungai. Lempar dia jauh-jauh!” kata dia, memerintahkan kepada anak buahnya. “Kemana, Bu?” tanya anak buah­nya. “Ke sungai di belakang.” Pegawai itu manut. 
Ia membawa tubuh kucing ke sungai dan melemparnya. Beberapa orang sempat menyaksikan kejadian itu. Si pegawai itu hanya mengatakan. “Habis dipukuli Ibu,” jelasnya singkat. “Memangnya kenapa, kok bisa sampai mati begitu?” “Kucing ini makan burung kesayangan Ibu.” Nah, cerita inilah yang sempat terdengar Mbah Warni dari orang di kampung ini. Mungkin, kata dia, soal keanehan makam Sumirnah ada hubungannya dengan kucing. Tapi, lagi-lagi, itu tak bisa dipastikan. Pasalnya, tak ada orang yang tahu persis menyaksikan tewasnyanya kucing itu. 

Cerita itu hanya keluar dari mulut pegawainya. Mbah Sumirnah sendiri merasa antara percaya dan tak percaya bila kondisi aneh yang terjadi di makam Sumirnah terkait dengan keganasannya memebunuh kucing. Yang pasti, apa yang terjadi di kuburan Sumirnah merupakan peringatan untuk orang-orang yang masih hidup. Ia menambahkan bahwa ada pelajaran penting dari kejadian tersebut. Kita, kata Mbah Warni, harus berbaik sangka kepada Allah. 
Jangan sembarangan menyiksa dan membunuh binatang, apalagi kucing. Saat ditanya lagi, apakah itu berarti bahwa ada kaitannya dengan perilaku membunuh kucing? Mbah Warni hanya menjawab, itu semua adalah rahasia Allah. 

Kita tidak bisa memastikannya. Sebab, hal demikian bukanlah wewenang kita sebagai manusia. Yang pasti, tambahnya, Nabi sangat mencintai kucing. Bahkan, salah satu sahabat Nabi dijuluki ‘Si Kucing’ lantaran sangat menyayangi kucing. Sahabat Nabi itu adalah Abu Hurairah, yang berarti ‘Bapaknya Kucing’. Abu Hurairah adalah sahabat Nabi yang banyak meriwayatkan hadits. Selanjutnya, kita sebagai manusia jangan sampai lupa kepada Allah. 
Shalat adalah kewajiban. Kita tidak boleh meninggalkan shalat. Begitu juga dengan sedekah. Kalau kita tergolong orang berkecukupan, maka usahakan membantu yang bagi yang sedang kesusahan. Bersedekah tidak menguras rezeki yang kita miliki. Melainkan bertambah dan bertambah. Terakhir, jangan menyekutukan Allah. Sebab, itu merupakan dosa besar. Wallahu a’lam. 



Catatan Penting.!
Diberitahukan kepada seluruh pembaca.saat ini situs ini di ambang kehancuran maka dari itu  demi berlangsungnya informasi-informasi dari kami dan tetap terjaganya situs ini dari kehancuran sekiranya pembaca meluangkan waktu sejenak untuk mengkli'k link ikl'an yg tertera di web ini.
terima kasih atas kerjasamanya semoga kebahagiaan selalu bersama kita.

"kebahagiaan yang sempurna adalah ketika kita ikhlas membantu orang lain"

No comments:

Post a Comment