loading...

Wednesday, February 17, 2016

Keren Coba Hal Ini di Terapkan Di Indonesia Saat Introgasi Koruptor


Cina sampai saat ini terkenal sebagai negara yang sangat keras dalam menghukum pelaku korupsi. Hukuman mati pun tak segan dijatuhkan pada para koruptor dan keluarganya yang terlibat. Dalam menginterogasi tersangka korupsi pun aparat penegak hukum di Cina tidak memberikan perlakuan istimewa.
Sebagaimana diberitakan Kompas yang bersumber dari BBC Indonesia seorang pejabat di Cina yang menjadi tersangka koruptor meninggal dunia saat di Rumah Sakit setelah sebelumnya diinterogasi oleh penyidik. Diberitakan bahwa pejabat yang dicurigai melakukan korupsi tersebut diduga ditenggelamkan oleh tim penyelidik untuk memaksa mengakui perbuatannya. Menurut surat kabar Beijing Times, pejabat yang bernama Yu Qiyi (42 tahun) diduga ditenggelamkan ke dalam bak mandi yang diisi dengan air es hingga ia berhenti bergerak. Istri tersangka menyatakan bahwa tubuh suaminya memar di bagian luar dan di bagian dalam selama 38 hari di tahanan.
Yu Qiyi adalah seorang karyawan perusahaan negara di kota Wenzhou yang ditahan terkait kasus tanah. Enam penyidik yang menangani kasus ini pun didakwa secara sengaja melukai seseorang dan sedang menunggu menunggu sidang.
Wartawan BBC di Shanghai, John Sudworth melaporkan interogasi terhadap Yu Qiyi merupakan bagian dari prosedur displin internal partai yang dikenal dengan sebutan Shanggui, merupakan proses yang ditempuh untuk memberantas korupsi di Cina. Berbagai laporan pun kerap muncul tentang kematian tiba-tiba yang diadalami para tersangka korupsi selama beberapa bulan terakhir. Membaca berita dari sumber ini mengingatkan saya bahwa perlakuan tersangka koruptor di Cina mirip dengan perlakuan kriminal biasa yang sudah menjadi rahasia umum di Indonesia seperti maling, pencuri, perampok, copet dan lainnya dimana aparat “kadang” menginterogasi dengan cara kekerasan.
Bahkan para penjahat kelas teri di Indonesia seringkali mati mengenaskan karena dihakimi massa sebelum sempat diproses hukum sebagaimana mestinya. Sebaliknya perlakuan para tersangka koruptor di Indonesia berbanding terbalik dengan di Cina dimana tersangka begitu dihormati dan dilindungi hak-haknya. Hukuman yang dijatuhkan pun seringkali tidak maksimal sesuai tuntutan, bahkan saat dipenjara pun para terpidana korupsi mendapat pelayanan yang lebih istimewa. Koruptor yang dihukum penjara selalu lebih cepat bebas dari seharusnya karena selalu mendapatkan remisi dalam jumlah yang besar dan beberapa kali dalam setahun. Seorang koruptor bahkan bisa mendapatkan remisi lebih dari 6 bulan dalam setahun dengan alasan “berkelakuan baik”. Jadi dengan mencoba-coba menghitung remisi yang diterima koruptor, andai terpidana korupsi dijatuhi hukuman 10 tahun penjara, dengan remisi model ini ia cukup menjalaninya selama 5 tahun, bahkan bisa bebas lebih cepat melalui program-program tertentu hingga pembebasan bersyarat. Sangat kontras dengan di Cina di mana Koruptor tanpa ampun akan dijatuhi hukuman mati dan segera dieksekusi.
Ah, mungkin perbedaan ini disebabkan falsafah hidup bangsa Indonesia sangat berbeda dengan di negara Cina, Indonesia adalah negara Pancasila yang melaksanakan nilai-nila agama dan ketimuran, Berketuhanan yang Maha Esa dan berkeadilan sosial, sedangkan Cina adalah negara komunis.


No comments:

Post a Comment