Monday, November 30, 2015

Kisah Pahit Dibalik Gelar HAJI di Indonesia

Ibadah haji merupakan suatu ibadah yang diidam-idamkan oleh seluruh semua umat Islam, sebab dengan beribadah haji selain kita bisa berhadapan langsung dengan Ka’bah dan kita juga bisa bermunajat langsung kepada Allah dengan begitu dekatnya
.
mekkah

Bersamaaan dengan meningkatnya ekonomi masyarakat, kini semakin banyak kita saksikan umat Islam Indonesia yang menunakan ibadah haji.

Kini hampir sebulan sudah para jamaah haji Indonesia kembali ke Tanah Air. Berbicara tentang haji, banyak kejadian di dalam masyarakat kita yang kadang-kadang lucu dan menggelikan. Seperti pemberian gelar “Haji” misalnya.

haji muhidin

Tahukah kamu jika penambahan gelar ‘Haji’ hanya ada di Indoensia? Ya, hanya di Indonesia. Di Arab Saudi, di negara-negara timur tengah dan negara belahan dunia manapun ketika seseorang pulang menunaikan ibadah haji tidak ada yang menambahkan gelar tersebut di depan nama mereka seperti yang terjadi di Indonesia.

Lantas sejak kapan pemberian gelar “Haji” muncul di Indonesia?

Seperti kita ketahui pada zaman pendudukan Belanda sudah banyak pahlawan Indonesia yang menunaikan ibadah haji seperti Pangeran Diponegoro, HOS Cokroaminoto, Ki Hajar Dewantara dan masih banyak lagi. Namun tidak pernah kita mendengar mereka menggunakan gelar haji. Kenapa dulu tidak ada Haji Diponegoro, Kiai Haji Mojo, padahal mereka sudah haji?

Sebagaimana yang dikutip nu.or.id sejarah ini dimulai dari perlawanan umat Islam terhadap kolonial belanda. Setiap ada pemberontakan selalu dipelopori guru thariqah, haji, ulama dari Pesantren. Tiga hal itulah yang menjadi ‘biang kerok’ pemberontakan terhadap kompeni, sampai-sampai membuat kompeni keteteran.

Setiap ada warga pribumi pulang dari tanah suci Mekkah selalu terjadi pemberontakan. Hampir tidak ada pemberontakan yang tidak melibatkan haji, terutama Kiai haji dari pesantren-pesantren

Contohnya adalah Pangeran Diponegoro yang pergi haji dan ketika pulang melakukan perlawanan terhadap Belanda. Imam Bonjol yang pergi haji dan ketika pulang melakukan perlawanan terhadap Belanda dan bala tentaranya.

Untuk memudahkan pengawasan, pada tahun 1916 penjajah mengeluarkan keputusan Ordonansi Haji, yaitu setiap orang yang pulang dari haji wajib menggunakan gelar “Haji”.

Tujuan nya jelas, agar pelaku pemeberontakan mudah diawasi. Maka sejak 1916 itulah setiap orang Indonesia yang pulang dari luar negeri diberi gelar “Haji”.

No comments:

Post a Comment