Tuesday, October 6, 2015

10 Masjid Tetap Berdiri Kokoh, Ketika Bencana Meratakan Bangunan disekitarnya


Bulan Desember, kita tentu masih ingat bencana besar 11 tahun yang lalu, 26 Desember 2004, Bencana Tsunami Aceh, Tsunami Samudra Hindia. Ratusan ribu jiwa, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, kaya serta miskin turut menjadi korban bencana alam.
Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari bencana tersebut, salah satunya tentang Kebesaran Allah SWT. Bencana Tsunami Aceh telah meluluhlantakan semua bangunan, namun ada beberapa bangunan yang masih kokoh berdiri, seperti beberapa Masjid di Aceh yang masih berdiri.

Fenomena Masjid yang tidak hancur saat bencana itu tak lepas karena Kebesaran Allah SWT yang diperlihatkan kepada kita semua. Selain di Aceh, masih ada beberapa masjid di daerah lain yang kokoh diterjang bencana, berikut masjid-masjid tersebut.

 Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta'ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS Al Isra' :16)

1. Masjid Baiturrahman


Baiturrahman adalah masjid dengan sejarah panjang. Cikal bakal masjid negara ini dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612. Namun masjid itu kemudian terbakar habis saat agresi Belanda pada April 1873. Pada Desember 2004, masjid raya ini tak luput dari terjangan tsunami. Kala itu, air tsunami yang menerjang tingginya hampir dua meter, menggenang hingga ke ruangan dalam. Banyak warga berlindung di masjid ini. Setelah air tsunami surut, di dalam Masjid Raya Baiturrahman dijadikan tempat meletakkan ribuan jenazah korban tsunami.

2. Masjid di Kuede Teunom

Wilayah Kuede Teunom berjarak 68 mil dari Banda Aceh. Saat terjadi bencana tsunami 2004, nyaris tak ada bangunan yang selamat. Hanya sebuah masjid dan beberapa gedung saja yang masih berdiri.  Masjid itu memiliki sebuah kubah. Dari foto yanng diambil setelah tsunami, terlihat masjid yang beratap seng karatan itu mengalami kerusakan. Kini, masjid di Aceh Jaya itu telah direnovasi. Di sekelilingnya telah pula dibangun permukiman warga, yang sebelumnya habis disapu air bah.


3. Masjid Baiturrahim, Ulee Lheue
Masjid yang terletak di Kecamatan Meuraksa, Banda Aceh, ini merupakan peninggalan Sultan Aceh pada abad ke-17. Masa itu masjid tersebut bernama Masjid Jami’ Ulee Lheu. Pada 1873 ketika Masjid Raya Baiturrahman dibakar Belanda, semua jamaah masjid terpaksa melakukan salat Jumat di Ulee Lheue. Dan sejak saat itu namanya menjadi Masjid Baiturrahim. Saat terjadi tsunami Desember 2004, masjid ini menjadi satu-satunya bangunan yang masih berdiri. Bangunan lain di sekitarnya tersapu air laut yang naik ke daratan.
Pada tahun 1983, saat Banda Aceh diguncang gempa dahsyat, kubah masjid ini runtuh. Masyarakat lantas membangun kembali masjid itu, namun tidak lagi memasang kubah, hanya atap biasa.


4. Masjid Rahmatullah Lampu’uk
Masjid Rahmatullah Lampu’uk dibangun pada tahun 1990 dan selesai tujuh tahun kemudian. Masjid yang terletak 500 meter dari pantai ini masih berdiri setelah diterjang tsunami, meski tak benar-benar utuh. Masjid ini kemudian direnovasi dengan dana bantuan dari Bulan Sabit Merah Turki.
Turki memang punya ikatan sejarah dengan Aceh. Dulu kala, Turki pernah membantu Aceh membangun tentara laut yang tangguh. Di Aceh pula terdapat makam yang diyakini mlik ahli perang asal Turki. Pada 26 Desember 2006, Wakil Perdana Menteri Turki, Mehmet Ali Sahin, bertandang ke Lampu’uk untuk meresmikan berbagai fasilitas yang dibangun Bulan Sabit Merah Turki dalam acara yang berpusat di halaman Masjid Rahmatullah.


5. Masjid Al Ikhlas Lhoknga

Masjid Al Ikhlas yang terletak di kawasan Lhoknga ini digunakan untuk tempat berlindung warga saat terjadi tsunami pada Desember 2004. Beberapa saksi mata yang selamat menuturkan telah terjadi keajaiban. Air bah yang menerjang terbelah saat akan menyentuh masjid. Wallau'alam Bishawaab.

6. Masjid Al Barkah Situ Gingtung

Peristiwa yang sulit dipercaya akal juga terjadi pada tragedi jebolnya tanggul Situ Gintung, di Cireundeu, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten (wilayah yang berbatasan langsung dengan Jakarta). Peristiwa tersebut telah menewaskan puluhan jiwa, ratusan rumah hancur, dan harta benda yang hilang. Pada saat terjangan air bah dan lumpur dari bendungan Situ Gintung membuat daerah sekelilingnya hancur, masjid Al Barkah justru kokoh berdiri. Ketika Situ Gintung yang berlokasi di Cireundeu, Tangerang itu jebol, hanya sedikit tembok bangunan masjid terlihat rusak.

7. Masjid Jabalurrahman Mentawai
Masjid di Indonesia yang selamat dari bencana
Tidak hanya masjid di Lhoknga dan Banda Aceh saja yang tetap kokoh saat tsunami menerjang kawasan pesisir Aceh dan merenggut nyawa ratusan ribu orang itu terjadi. Masjid Jabalurrahman di Mentawai juga sanggup berdiri dengan tegap meskipun air membawa material keras.


8. Masjid kikisik Tasikmalaya.
Masjid di Indonesia yang selamat dari bencana
masjid Kikisik
Terletak di kaki Gunung Galunggung, tampak tak berbeda dengan masjid pada umumnya. Namun masjid yang berada di kompleks Pondok Pesantren (Pontren) Kikisik, Desa Gunungsari, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, ini pernah membuat heboh warga Tasikmalaya dan sekitarnya saat Galunggung meletus tahun 1982.
Ketika lahar mulai turun dan memorak-porandakan apa saja yang dilewatinya, Masjid Kikisik, yang hanya berjarak sekitar 5 km dari kawah dan masuk daerah bahaya I, luput dari terjangan kawah. Padahal, masjid beserta kobong serta puluhan rumah penduduk berada di lokasi cekungan.
"Memang, secara logika, lahar seharusnya masuk dan menimbun masjid beserta pesantren dan rumah penduduk karena berada di daerah cekungan. Namun hal itu tidak sampai terjadi. Lahar malah berbelok ke arah utara dan selatan sehingga masjid dan sekitarnya selamat dari terjangan lahar," kenang H Kusnadi, pengelola Pontren Kikisik.
Lolosnya masjid dari terjangan lahar akhirnya menjadi buah bibir warga Tasikmalaya. Saat situasi aman, warga berbondong-bondong ingin menyaksikan keajaiban itu. Seorang saksi mata peristiwa tersebut, Uu Suhartadi (68), warga Jalan Bantar, menyebut kejadian itu sebagai peristiwa tak terlupakan.
"Jika melihat lokasi daerahnya, masjid tersebut seharusnya tertimbun lahar. Tapi lahar malah hanya melintas dari sisi utara dan selatan masjid," tutur Uu, yang mengaku beberapa saat setelah kejadian, ia langsung menuju lokasi untuk memantau keadaan masjid, pesantren, dan rumah penduduk. Semuanya dalam keadaan selamat tak kurang suatu apa pun.


9. Masjid Al Amin dan  Masjid Al-Mujahidin di Yogyakarta
Masjid di Indonesia yang selamat dari bencana
masjid Al Mujahidin
Masjid Al amin Kinahrejo masih berdiri tegak dari amukan Wedus gembel atau awan panas yang di muntahkan merapi beberapa waktu lalu. Masjid yang hanya berjarak 100 meter dari rumah Mbah marijan tersebut masih berdiri kokoh seakan tidak pernah merasakan apa-apa. Sementara bangunan – bangunan disekitar porak poranda akibat terjangan badai panas merapi dan meluluh lantakkan semua yang ada.
Hijaunya desa sudah terganti dengan tebalnya debu abu vulkanik termasuk gersangnya pepohonan yang habis terbakar, suhu panas ebih dari 600 derajat yang dihembuskan merapi meluluh lantakkan pemukiman Kinahrejo. Mesjid yang  berdiri tak jauh dari tempat mbah marijan ini tetap selamat  dan berdiri kokoh.
Masjid di Indonesia yang selamat dari bencana
masjid Al Amin
bencana gunung Merapi meletus membuat kawasan Yogyakarta begitu tegang. Saat Merapi mengeluarkan lava pijar dan awan panas, semua orang mengungsi. Awan panas itu pun menghancurkan seluruh bangunan dan makhluk hidup yang dilewati. Tapi tidak dengan masjid Al-Mujahidin yang tetap kokoh berdiri.
Masjid Al Mujahidin yang berada di dusun Bronggang terletak kurang lebih 14 km dari puncak gunung Merapi. Dengan kekuasaan dan pertolongan Allah, masjid Al Mujahidin dapat selamat dari terjangan awan panas (wedus gembel) gunung Merapi, bahkan menjadi penghalang lajunya awan panas tersebut yang akan meluncur ke hilir, arah Selatan. Sehingga rumah penduduk yang berada di sisi sebelah kiri masjid arah ke kiblat, selamat, tidak hancur, tidak hangus terbakar, Allahu Akbar.


10. Masjid Raya Ganting, Padang
Masjid di Indonesia yang selamat dari bencana
Masjid Raya Ganting
Masjid Ganting merupakan mesjid tertua di kota Padang yang pada awalnya didirikan sebagai sarana pemersatu 8 suku yang ada di kota Padang. Masjid ini juga pernah menjadi pusat pergerakan perjuangan kemerdekaan tahun 1945.
Masjid ini didirikan pada 1805 dan selesai pada 1810, sehingga menjadi masjid tertua di Kota Padang. Masjid Raya Ganting termasuk bangunan yang selamat dari hantaman gelombang tsunami akibat gempa bumi Sumatera pada 1833.
Ketika gempa bumi dan gelombang tsunami melanda sebagian besar Kota Padang tahun 1833, Mesjid Raya Ganting yang memiliki 25 tiang penyangga itu, selamat dari kehancuran. Namun ketika gempa besar melanda Kota Padang 30 September 2009 lalu, sebagian bangunan terlihat rusak terutama dibagian renovasi yang dilakukan tahun 2000-an oleh pengurus mesjid.
Arsitektur Masjid Raya Ganting merupakan perpaduan dari berbagai corak arsitektur sebab pengerjaannya melibatkan beragam etnik, seperti Persia, Timur Tengah, China, dan Minangkabau. Saat ini, selain digunakan sebagai aktivitas ibadah umat Islam, masjid satu lantai ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama dan pesantren kilat bagi pelajar. Bahkan telah menjadi salah satu daya tarik wisata yang terkenal di Kota Padang.

No comments:

Post a Comment